Cigarretes Quality Control System

9 01 2012

I. PENDAHULUAN

Pengertian agroindustri sebagai komponen dari sistem agribisnis merupakan industri yang mengolah bahan baku dari hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi. Oleh karena itu agroindustri mempunyai peranan yang sangat penting karena pada umumnya mampu menghasilkan nilai tambah dari produk segar hasil pertanian. Kemajuan teknologi agroindustri dewasa ini bahkan mampu mendorong ke arah diversifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun pengguna lainnya atau meningkatkan pangsa pasar hasil olahan. Tujuan agroindustri pengolahan hasil pertanian dengan teknologi tertentu, antara lain adalah untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan manusia, baik selera maupun nilai gizinya, memperpanjang masa simpan hasil pertanian yang mudah rusak, memberi peluang bagi pergembangan industri, menciptakan diversifikasi produk, memperluas pangsa pasar. Kemajuan teknologi dalam agroindustri akan semakin efektif jika didukung dengan adanya sistem informasi. Sistem informasi ini memungkinkan agroindustri bekerja secara otomatis(mengurangi human error), banyak mengurangi biaya produksi dan lain sebagainya.
Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau, cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok, antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Dalam situasi krisis ekonomi, IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara.
Dalam tahun 2005 jumlah IHT (Rokok) sebanyak 3.217 perusahaan dan dalam tahun 2006 sudah mencapai 3.961 perusahaan atau meningkat sebesar 23,12 %. Dalam periode yang sama produksi rokok mencapai 220,3 milyar batang dan 218,7 milyar batang. Sebaran IHT secara geografis sebagian besar (75%) berada di Jawa Timur, Jawa Tengah (20%), dan sisanya berada di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, dan D.I Yogyakarta. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih), cerutu dan tembakau iris (shag). Khusus untuk industri rokok, peranan dari masing-masing golongan pabrik baik besar (Gol. I), menengah (Gol II), gol kecil (Gol IIIA dan Gol III B) tahun 2007 sebagai berikut :
PABRIK JUMLAH
PABRIK PRODUKSI CUKAI
GOL JUML. PRODUKSI (BATANG) (JUTA BATANG) % (Milyar Rp.) %
I > 2 Milyar 8 173,365.50 75.05 37,614.15 86.38
II > 500 Juta s.d 2 Milyar 15 23,585.01 10.21 2,978.81 6.84
III A > 6 Juta s.d 500 Juta 354 27,073.20 11.72 2,870.51 6.59
III B 0 s.d 6 Juta 4.416 6,976.20 3.02 78.13 0.18
Total 4.793 231,000.00 43,541.50
Keterangan :
1. Sumber Ditjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan

1.1 Permasalahan Yang Dihadapi Industri Hasil Tembakau
a. Bahan Baku
• Mutu tembakau yang belum mampu memenuhi standar pabrik;
• Ketidakseimbangan jenis pasokan dan jenis kebutuhan tembakau;
• Pelaksanan Kemitraan khususnya tembakau rakyat belum berjalan dengan baik;
• SNI Tembakau belum menjadi acuan dalam perdagangan tembakau;
• Berfluktuasinya harga cengkeh.

b. Produksi
• Kurangnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) khususnya industri kecil;
• SNI produk olahan tembakau yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi;
• Rendahnya tingkat produktifitas dan efisiensi;
• Kurangnya kemampuan industri pengolahan tembakau untuk melakukan diversifikasi produk dengan resiko kesehatan yang rendah.
c. Pemasaran
• Terbatasnya akses pasar luar negeri;
• Regulasi di daerah yang kurang disosialisasikan;
• Traktat International Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control-FCTC) cenderung membatasi konsumsi produk hasil tembakau;
• Beredarnya rokok ilegal;
• Kebijakan cukai yang kurang terencana;
Dari Permasalahan yang dihadapi perlu adanya Sistem informasi yang menangani tingginya tingkat permintaan dan produksi hasil tembakau. Agar mengefisiensikan segala kegiatan produksi.

II. PEMBAHASAN
2.1 Tentang Produk ( Cerutu Argopuros)
Koperasi Karyawan Kartanegara PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) didirikan pada tanggal 14 Desember 1968, memiliki beberapa bidang kegiatan usaha diantaranya Unit Usaha “CERUTU” sebagai produk unggulan dengan kualitas dan standart internasional.
Pabrik Cerutu ini berada di dalam KAWASAN BERIKAT PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di Jelbuk Jember Jawa Timur. Jember sejak jaman penjajahan Belanda sudah dikenal sebagai daerah sentra kualitas Tembakau Besuki dengan hamparan perkebunan luas di daerah kaki Gunung Argopuro.
Selama ini Sistem yang ada adalah hanya pengawasan manual dan Penjualan online tetapi penjualannya dilakukan oleh pihak pabrik selanjutnya disebarluaskan oleh pihak ketiga.
2.2 Tujuan Sistem
Untuk membangun sistem kontrol kualitas Cerutu “Argopuros” di PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di Jelbuk Jember Jawa Timur, mulai dari tembakau siap panen hingga cerutu jadi, termasuk pemasaran dan atau pemasaran secara online
2.3 Manfaat Sistem
Memberi kemudahan untuk penikmat cerutu, pengelola keuangan dan pemilik pabrik dalam mengatur semua produksi pabrik.
2.4 Elemen Sistem
2.4.1. Operator Proses Pemetikan/ Sortasi
2.4.2. Operator Proses Pengeringan
2.4.3. Operator Proses Fermentasi
2.4.4. Operator Proses Pembungkusan
2.4.5. Operator Proses Gudang
2.4.6. Operator Proses Pengiriman(Bagian penjualan)

2.5 Proses Manual Tanpa Sistem
2.5.1. Pemetikan
Pemetikan daun dilakukan secara bertahap, kriteria tanaman siap dipanen yaitu setelah tanaman berumur 50 hari, 60 – 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga, warna daun “menongo bener” (hijau seperti bunga kenanga), sudut daun telah melebar atau merunduk daun mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Jenis dan banyaknya daun yang akan dipetik terdiri dari : 2 lembar daun tanah/pasir (DT), 6 lembar daun koseran pertama (DKP) 10 lembar daun koseran atas (DKA), 4 lembar daun madya pertama (DMP) 6 lembar daun madya tengah (DMT) dan 4 lembar daun madya atas (DMA). Pemetikan dilakukan pada pukul 06.00 – 08.00 pagi secara manual,pemetikan pada pagi hari akan menghasilkan krosok yang berwarna lebih cerah daripada sore hari.
2.5.2. Pengeringan
Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air curing. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m. Pada bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di dalamnya. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi, jendela ditutup dan dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam, kayu, atau briket batubara). Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut turun. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2.100 dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los pengering adalah sortasi, sunduk, pendolokan dan penyusunan daun, penaikan dan pelolosan.

2.5.4. Fermentasi
Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan polisakarida. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat 6-18 %, pembebasan tanah, penyerapan udara, pembebasan CO2, Pembebasan NH3 dan penurunan kadar air 14 – 20 %. Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma, warna krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus. Setelah fermentasi krosok kemudian disusun dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2,5 ton. Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C. Selanjutnya krosok dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan tinggi 22 cm.
2.5.5. Pembungkusan
Setelah proses fermentasi, dan di sortasi lagi mana daun tembakau yang layak dan tidak proses selanjutnya adalah masuk mesin pembuatan cerutu setelah itu pengepakan cerutu.
2.5.6. Gudang
Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0,75 tablet/m3 setiap 40 hari sekali.
2.5.7. Pengiriman
Setelah semua proses dilakukan proses ini adalah proses terakhir dalam produksi cerutu ini.

2.6 Diagram Alir Data
Dalam pembuatan desain sistem dibutuhkan diagram alir data, untuk memudahkan dalam membangun sistem. “Diagram aliran data dan pendekatan atas- bawah(top-down) membantu para analisis dan pemakai dalam memahami disain dan menghadapi kerumitan.”(Lucas, 1993:138)

Penjelasan Gambar:
1) Operator Proses Penyortir
melakukan proses menyotir tembakau pilihan yang siap panen data didapat dari sistem yang kemudian Operator ini menginputkan ke sistem berapa saja tembakau yang sudah dipanen, berapa yang gagal panen. Pada Operator ini akan memberi label, yaitu barcode. Supaya mudah untuk melanjutkan ke proses selanjutnya.

2) Operator Proses Pengeringan
melakukan proses Pengeringan. Operator iniakan mengambil data yang telah diinputkan oleh operator Proses Penyortir, dan operator ini akan mendapatkan jadwal dari sistem tentang pengeringan tembakau. Dengan cara memindai Barcode yang telah diberi oleh OP. Penyortir. Operator ini juga melakukan pencatatan tembakau kering, yaitu dengan memindai ulang barcode, kemudian menginputkan ke sistem.
3) Operator Proses Fermentasi
Setelah melalui Proses Pengeringan, dilakukan proses fermentasi. Pada proses ini Operator akan memindai, untuk menginputkan ke sistem tembakau yang di fermentasi. Operator akan melihat terlebih dahulu, mana jadwal tembakau yang siap fermentasi, maupun yang belum siap fermentasi.
4) Operator Proses Pembungkusan
Setelah Proses fermentasi selesai selanjutnya adalah proses pembungkusan, dengan memindai barcode yang ada di sistem, kemudian diproses oleh Mesin Pembungkusan, kemudian akan diinputkan data cerutu jadi
5) Operator Proses Gudang
Setelah seluruh data cerutu jadi diinputkan ke sistem proses selanjutnya adalah penyimpanan di gudang sebelum dikirim ke konsumen. Ketika terjadi transaksi maka Operator akan memindai barcode. Dan data tersebut akan masuk ke stokcerutu
6) Operator Proses Pengiriman(Bagian penjualan)
Pada Proses Pengiriman, Operator akan menginputkan, Jadwal pengiriman, operator ini akan mendapatkan stok cerutu dari gudang. Dan akan mendapatkan data pemesanan, operator ini akan memperkirakan mana transaksi yang dibatalkan mana yang tidak
7) Keuangan
Operator ini akan mengelola semua keuangan yang masuk dan semua keuangan yang keluar operator ini akan mendapatkan rekapan penjualan cerutu dari sistem
8) User
User adalah penikmat cerutu yang akan memesa cerutu via online, yang didapatkan dari sistem adalah stok cerutu, dan bukti pemesanan. User akan menginputkan data pemesanan. Dalam bukti pemesanan akan terdapat jadwal pengiriman.
9) Pemilik
Pemilik akan mendapatkan rekapan dari semua data yang keluar dan data yang masuk, (Rekapan penjualan cerutu)

2.7 Kendala
- Perlu dibangun pusat data
Dikarenakan sistem ini sistem yang terkoneksi dan terintegrasi, maka dibutuhkan pusat data. Untuk mengarsip semua data yang masuk dan semua data yang keluar
- Perlu adanya pelatihan tentang sistem yang memadai
Perlu biaya tambahan untuk kendala ini karena apabila sistem tidak ditangani oleh orang yang tepat maka akan terjadi kesalah- kesalahan
- Perlu adanya Pengadaan Hardware mampu bekerja 7hr/24 jam
Hardware ini penting karena sistem tak akan mapu berjalan dengan baik ketika hardware yang disediakan tidak memadai.

2.8 Kelebihan sistem.
-Paperless
Tidak membutuhkan kertas yang banyak untuk pembukuan
Lebih efisien
Karena sistem yang bekerja, meminimalisir Human Error
Hemat waktu
Banyak waktu yang tersimpan karena semua terkoneksi dengan baik
Hemat Cost
Tidak membutuhkan banyak pekerja

2.9 Kekurangan Sistem
Membutuhkan Pusat data
Inilah yang menjadi masalah dalam sistem, sistem hanya mampu membackup data ketika mempunyai pusat data, disini semua transaksi dicatat, mulai dari proses prodiuksi hingga proses transaksi
Membutuhkan sumber daya listrik
Ketika sumber daya ini tak tersedia maka Sistem tidak akan jalan. Karena sistem ini terkoneksi dan terintegrasi
Butuh tenaga yang mengerti sistem
Poin penting dan menjadi kelemahan sistem adalah disini. Karena sistem membutuhkan seseorang yang mengerti, untuk menjalankan sistem, dan melakukanperbaikan ketika terjadi kerusakan.
Membutuhkan Banyak sensor.

Sumber:
Lucas,JR. 1993. Analisis Desain, dam Implementasi Sistem Informasi. Jakarta:Erlangga.
Studi“Tobacco Economic in Indonesia” Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia





Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

9 01 2012

Artikel Berikut adalah sharing tugas dari saya, konsepnya, dengan Artikel jadinya. Dibuat karena untuk memenuhi Tugas Bahasa Indonesia. Lumayan buat ngisi blog yang lama tak berpenghuni. :D . Oke langsung aja. Oh ya mau cerita ini diketik manual lho. mantep jaya pokoknya aku ma hamdan ngerjakan mulai jam 9 sampek jam 3 pagi.

Tema : Penanggulangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction)
Judul : Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana
Kerangka
Lembar 1-3: Menyajikan Data dan fakta tentang kondisi alam di Indonesia(Masalah)
- Kondisi alam indonesia
- Pak SBY dapat penghargaan Disaster Risk Reduction
- Korban terbanyak yang biasanya terjadi
- Peran Masyarakat saat ini

Lembar 4: Perbandingan Indonesia dan luar negeri dalam menyikapi Resiko bencana alam
- Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di indonesia
- Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di Luar negeri
- Upaya Pengurangan resiko bencana beberapa daerah

Lembar 5: Penggunaan Teknologi (Solusi)
- Teknologi
- Seberapa efektif
- Negara lain dalam penggunaan teknologi dlm pengurangan resiko bencana
Lembar 6: Kesimpulan
- Merangkai kembali peristiwa2 diatas.
- Menegaskan kembali,pentingnya pengurangan resiko bencana
- Teknologi adalah jawaban semuanya

Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. Hal itu dikarenakan adanya cincin api atau ring of fire yang melingkupi Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Nasional Walhi Chalid Muhammad dalam Konferensi Rakyat Indonesia (KRI) di kompleks Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 1 Juli 2011.Kondisi geologi Indonesia memang berada di lingkungan cincin api. Cincin api adalah zona gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Ini membentang seperti daerah tapal kuda sekitar 40,000 km memanjang, yang menampung lebih dari 90% dari gempa bumi terbesar di dunia. Cincin api di Indonesia ditandai dengan adanya rangkaian pegunungan yang membentang dari Sumatera hingga kebagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Tidak hanya kondisi alam, Indonesia mempunyai kesempatan bencana alam lebih besar, dikarenakan kerusakan oleh manusia, seperti halnya kerusakan hutan, kerusakan ekosistem laut, tanah, udara yang menyebabkan banjir, tanah longsor, kekeringan, krisis air bersih dll. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, hingga akhir 2011, 31 perusahaan yang sedang diproses perizinannya di kantor Kementerian Kehutanan meminta izin pinjam pakai kawasan seluas 444 ribu hektare lebih. Khusus di Kabupaten Tanahbumbu, dari 37 perusahaan tambang batu bara yang mengapling lahan seluas 152.036 hektare, yang sudah mengantongi izin pinjam pakai kawasan dari Menteri Kehutanan (Menhut) hanya empat perusahaan saja, dengan total area seluas 15.654 hektare. Pemandangan serupa tampak di wilayah Kabupaten Tanahlaut yang sempat ditinjau langsung Menhut Zulkifli Hasan. Dari 74 pemegang izin kuasa pertambangan yang menggunakan lahan seluas 60.691 hektare, ternyata hanya empat perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari Menhut untuk melakukan aktivitas dengan luas area 12.778 hektare. Kerusakan lingkungan hidup tak hanya di daratan saja. Terumbu karang di perairan laut Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pun rusak parah, mencapai 70 persen dari luas 1278,18 hektare. “Hasil penelitian Universitas Bung Hatta menunjukkan kondisi terumbu karang perairan laut di Pesisir Selatan kian rusak. Kerusakan demi kerusakan ini menjadi peran besar dalam bencana alam.
Ini bertolak belakang ketika presiden SBY menerima penghargaan, dari PBB mengenai Global Champion of Disaster Risk Reduction. PBB menilai bahwa Indonesia yang merupakan negara berkembang melalui kepemimpinan bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah dapat berprestasi dalam menanggulangi tanggap darurat tsunami Aceh. Namun ini hanya penilaian dalam 1 kasus, masih banyak kasus bencana lain dan kita tidak tahu bagaimana penangananya. Ada faktor pernting yang mesti dinilai, yaitu ketanggapdaruratan warga, partisipasi warga dalam pengurangan resiko bencana karena warga lah yang mengerti keadaan lapangan, dan mengalami secara langsung bencana alam tersebut.
Bencana alam erat hubungannya dengan korban, karena alam tak bisa diramalkan kapan tak bersahabat. Seperti peristiwa gempa bumi yang berkuatan 8,9 skala Richter disusul dengan gelombang Tsunami di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara tahun 2004 yang menghasilkan korban meninggal sebanyak 220.000 jiwa, gempa tektonik di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006. Pada tahun 1988-2003 sebanyak 647 kejadian korban meninggal sebanyak 2.022. Pada tahun 2005, 281 kejadian dan menelam korban meninggal 2.462. ( Sumber: Depsos tahun 2008 dan walhi 2004) Banyak menelan korban, ketika tidak ada kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Anak-anak adalah jiwa yang paling rentan dalam bencana alam, terutama anak usia dini, merupakan kelompok paling rentan yang menjadi korban pertama dan paling menderita daripada orang dewasa. Mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri, sehingga peluang menjadi korban lebih besar. Harus ada upaya meminimalisasi korban anak- anak karena anak-anak adalah tunas bangsa.
Banyak upaya pengurangan resiko bencana untuk meminimalisasi banyaknya korban, semisal di jawa tengah dalam rangka memperingati hari remaja internasional 12 Agustus 2011, PMI beserta PMR mengadakan SB (Buka-Saur Bersama), tidak hanya itu setelah terawih diadakan pementasan wayang tenda, suatu aksi upaya pengurangan risiko (UPR) yang berbeda dari yang lainnya. Selain melakukan Upaya pengurangan risiko, acara ini juga melestarikan budaya indonesia. Tidak hanya di Jawa tengah, Jawa barat memiliki Smart SOP yang dicetuskan oleh Imam A. Sadisun, Dr. Eng. Lain jawa tengah dan barat lain pula cara di jawa timur, upaya pengurangan resiko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) jawa timur menggelar simulasi dalam upaya mengurangi risiko bencana pada tanggal 16/11/2011 di lapangan Rampal, Kota Malang.
Penanggulangan Bencana Alam yang dilakukan saat ini masih menyimpan beberapa masalah antara lain sebagai berikut:
Kelambatan dalam mengantisipasi tanggap darurat bencana;
Kurangnya koordinasi dalam perencanaan danpelaksanaan dalam pemulihan pasca bencana;
Kerangka kerja kelembagaan lebih fokus pada pelaksanaan tanggap darurat bencana dibanding pemulihan pasca bencana serta pendanaan yang lebih ditekankan pada tanggap darurat bencana.
Pemahaman atas pengurangan resiko bencana juga masih terlihat jelas akan kurangnya pemahaman dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan resiko becana.
Lemahnya kinerja kelembagaan dalam pelaksanaan pengurangan resiko bencana, kurangnya perencanaan dan pelaksanaan dalam pengurangan resiko bencana serta kurang terpadunya rencana penataan ruang dengan pengurangan resiko bencana.
Ketidakpahaman masyarakat dalam memberikan bantuan terhadap para korban, mengakibatkan masyarakat yang menjadi korban bencana alam sangat bergantung pada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah.
Belum terpenuhinya pelayanan standar minimum yang disyaratkan oleh piagam kemanusiaan terkait dengan pemberian bantuan terhadap korban bencana, sehingga sering ditemui korban bencana terkesan tidak dipenuhi akan haknya terhadap kehidupan yang bermartabat.
Berikut adalah beberapa resolusi, dan strategi nasional yang dijadikan landasan pengurangan risiko bencana:
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Upaya pengurangan risiko bencana merupakan isu lintas wilayah dan sektoral dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Pada 30 Juli 1999 Dewan Ekonomi dan Sosial PBB menerbitkan Resolusi Nomor 63 Tahun 1999 yang menetapkan bahwa dekade 1990 menjadi Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional(International Decade for Natural Disaster Reduction/IDNDR ). Dalam resolusi ini direkomendasikan agar PBB memfokuskan tindakan bagi pelaksanaan strategi internasional pengurangan risiko bencana. Dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana tersebut adalah:
(1). Mewujudkan ketahanan masyarakat terhadap dampak bencana alam, teknologi, dan lingkungan;
(2). Mengubah pola perlindungan terhadap bencana menjadi manajemen risiko bencana dengan memberlakukan integrasi strategi pengurangan risiko bencana ke dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan.
Strategi Yokohama (Yokohama Strategy)
Strategi Yokohama untuk Dunia yang Lebih Aman; Pedoman untuk Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Mitigasi terhadap Bencana Alam dan Rencana Aksi (The Yokohama Strategy for a Saber World; Guidelines for Natural Disaster Prevention, Preparedness and Mitigation and its Plan of Action) yang diadopsi pada 1994 memberikan suatu panduan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
Kesenjangan dan tantangan khusus yang diidentifikasi dari Strategi Yokohama terhadap tinjauan pelaksanaan yang masih cukup relevan untuk dijadikan acuan dalam pengembangan kerangka aksi 2005-2015, yaitu;
(1). Tata kelola, kelembagaan, kerangka kerja legal dan kebijakan;
(2). Identifikasi risiko, pengkajian, monitoring dan peringatan dini;
(3). Pengembangan pengetahuan dan pendidikan;
(4). Pengurangan faktor-faktor risiko mendasar;
(5). Kesiapsiagaan untuk respons dan pemulihan yang efektif.
Dan Masih banyak yang lain yang menjadi landasan internasional indonesia dalam rencana aksi nasional dalam pengurangan resiko bencana 2010-2015
“Teknologi adalah pengetahuan, peralatan, dan teknik yang digunakan untuk mengubah bentuk masukan (bahan baku, informasi, dan sebagainya) menjadi keluaran(produk dan jasa). Perubahan teknologi dapat membantu organisasi untuk menyediakan produk yang lebih baik atau menghasilkan produk secara lebih efisien”(Rachmawati, 2007:21). Dengan dasar tersebut membuktikan bahwa dengan teknologi, akan menghasilkan produk yang efisien, itu juga akan menghasilkan informasi yang efisien. Karena informasi dalam pengurangan resiko bencana sangat dibutuhkan. Seperti yang dilakukan di Jepang, karena mereka sadar akan rawan gempa, maka jepang mengantisipasinya dengan memperbanyak robot penyelamat. Berikut delapan robot penyelamat yang pernah digunakan dalam mitigasi bencana, dikutip detikINET dari Science Popular, Senin (14/3/2011), yakni RoboCue, Snakebot, Robotic Safety Crawler, Roller-Skating Rescuer, The Breath-Sensor, Kinect-Powered Rescue-Bot, Humanoid BEAR Medic-Bot dan Ultra-Cheap RoachBot.
Betapa pentingnya teknologi dalam jaman sekarang, terlebih untuk Pengurangan Resiko Bencana. Seperti yang tertulis di Rancangan Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana(RAN-PRB) 2010-2012 teknologi termasuk salah satu programnya. “Mengembangkan inovasi dan mengintensifkan kegiatan pengembangan dan pengenalan terhadap berbagai sistem peringatan dini yang berbasis teknologi tepat guna dalam rangka kesiapsiagaan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi bencana di tingkat nasional dan lokal;”(UNDP.2010:116). Informasi jika dikelola dengan teknologi dengan baik maka akan menghasilkan informasi yang bermanfaat. Teknologi yang bisa dimanfaatkan dalam mengelola informasi adalah internet. Selama ini jika internet hanya digunakan untuk social network, kota bisa gunakan internet untuk mencari tahu informasi tentang kebencanaalaman, tentang bagaimana menyelamatkan diri. Tidak hanya mencari kita juga bisa membagikan pengalaman tentang bagaimana menghadapi bencana alam
Teknologi merupakan solusi tepat dalam mengurangi resiko bencana, kita lihat jepang yang telah menerapkan teknologi dengan memperbanyak robot penyelamat. Dalam Resolusi PBB juga di sebutkan bahwa terdapat dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana yang salah satunya adalah teknologi. Teknologi bisa juga digunakan sebagai alat promosi bagaimana pentingnya pengurangan resiko bencana, mengingat Indonesia bertempat di Ring Of Fire, yang notabenenya adalah wilayah yang rawan bencana. Teknologi merupakan alat yang penting tetapi tidak satu-satunya masih banyak alat lain yang perlu diperhatikan, untuk mengurangi resiko bencana ini. Mengingat presiden SBY yang diberi penghargaan oleh PBB, sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction. Apresiasi yang lebih ini harus diimbangi dengan prestasi yang memadai, pemanfaatan teknologi tentang bahaya bencana lebih ditingkatkan, simulasi tentang kebencanaan lebih diperbanyak di daerah karena daerah yang mengerti kondisi lapangan. Promosi tentang kebencanaan sebaiknya jangan hanya simulasi, seperti yang dilakukan PMI Jawa tengah dengan menggelar wayang tenda. Dari sisi hiburan ini sangat diperlukan oleh masyarakat, masyarakat menyukai sesuatu yang menari dan berbau hiburan, karena kebencaan jika hanya dilakukan dengan seminar, atau pelatihan pelatihan yang membosankan, orang akan semakin malas mengikuti pelatihan kebencanaan demi mengurangi resiko bencana. Itulah solusi-solusi tepat untuk mengurangi resiko bencana agar kita bisa meminimalisasi korban.

Sumber:
Ebook http://ymp.or.id. Indonesia Rawan Bencana Alam, diunduh 12 Desember 2011 : 10.30.
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=293080 diunduh 18 desember :16.23.
www.detik.com diunduh, 18 Desember 2011 :16.30
UNDP, Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB) 2010-2012. 2010 (Tidak dipublikasikan)
Rachmawati, Ike. 2007. Manajemen Sumber Daya. Andi: Yogyakarta.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.