HIV/AIDS. . .serem???

Posted on Updated on

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).(id.wikipedia.org)

Para ahli menyebutkan ada beberapa hal yang membuat kaum remaja mudah jatuh ke dalam perilaku seks bebas, antara lain pengaruh lingkungan pergaulan, pornografi, sulit membedakan antara cinta dan nafsu, naif karena berpikir berhubungan seks satu kali tidak apa-apa, dan lain sebagainya. Terhadap kondisi-kondisi demikian, sulit untuk menemukan suatu cara yang ampuh untuk mengatasinya selain adanya usaha-usaha pembentukan karakter dalam diri remaja.
Pendidikan seks yang berdasarkan pembentukan karakter bukanlah mengajarkan bagaimana melakukan seks yang aman, termasuk penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti kondom, melainkan suatu program yang mendidik bagaimana seorang remaja memiliki karakter yang kuat seperti sikap bertanggung jawab, berani mempertahankan prinsip, rasa hormat terhadap diri orang lain, dan kemampuan pengendalian diri untuk tidak berperilaku negatif, dan sebagainya. Karakter-karakter yang demikian membuat seorang remaja mampu untuk mempertahankan prinsip “tidak melakukan hubungan seks bebas” (abstinence).
Menghadapi perkembangan yang mengkhawatirkan ini, dunia pendidikan, pemerintah, dan organisasi kesehatan sibuk menebarkan pesan “pengurangan risiko,” terutama tertuju pada kaum remaja.
Penanggulangan difokuskan pada upaya mengurangi kemungkinan terjadinya kehamilan atau tertular penyakit menular seksual, lazimnya dengan menyebarluaskan penggunaan alat kontrasepsi atau metode/sarana pencegah penyakit, terutama kondom. Ironisnya, masalah perilaku seks bebas itu sendiri kurang mendapat perhatian serius.
“Say No to Free Sex” adalah keputusan terbaik dan paling sehat untuk para remaja. Kenyataannya, pesan serupa secara universal diajarkan dalam menanggulangi perilaku beresiko tinggi lainnya, termasuk merokok, mabuk-mabukan, narkoba dan kekerasan (Misal: “Say No to Drugs”). Pantang melakukan semua tindakan berisiko tinggi– termasuk aktivitas seksual–menjamin masa depan yang cerah dan memberi kesempatan pada anak muda untuk membina persahabatan, meraih impian dan cita-cita, serta menikmati kesehatan yang optimum.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu mengabaikan atau menganggap remeh ide agar seseorang menahan diri dari aktivitas seks di luar nikah. Menurut mereka, hal ini tidaklah realistis. Mereka beranggapan bahwa aktivitas seksual di kalangan remaja mau tak mau pasti terjadi, jadi pendekatan yang paling masuk akal adalah menolong mereka meminimalkan konsekuensi dari tindakannya itu.
Lebih jauh, asumsi “mau tak mau pasti terjadi” tidak pernah menjadi semboyan panutan program-program yang dengan gigih berupaya menanggulangi kecanduan rokok, alkohol, dan narkoba di kalangan kaum muda.
Berdasarkan suatu survei yang pernah dilakukan tentang ketepatan dalam menggunakan kondom, hasilnya menunjukkan tingkatan yang rendah, terutama di kalangan remaja. Rupanya asumsi bahwa remaja lebih sanggup menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks bebas “jauh lebih realistis” dibanding asumsi bahwa remaja akan menggunakan kondom dengan benar setiap kali mereka berhubungan seks.
Lebih dari itu, meski kondom secara konsisten digunakan, khasiatnya kurang terjamin, dan dalam banyak kasus, kondom hanya memberikan perlindungan minimal terhadap penyakit menular seksual yang berbahaya.
Banyak pakar kedokteran yang bahkan meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,0003 mm, sedangkan ukuran virus HIV/AIDS jauh lebih kecil, 0,000001 mm.
Jika pesan yang mempromosikan pantang seks bebas (abstinence) diharapkan bisa terlaksana dengan efektif, tidaklah cukup bila kita hanya mengkampanyekan slogan “Say No to Free Sex” atau sesekali menggelar acara penyuluhan dan ceramah kesehatan tentang penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Pesan tersebut mesti dicanangkan secara komprehensif, multidimensi, dan berulang-ulang, lewat berbagai cara, selama beberapa tahun, baik di sekolah, di rumah, dan lingkungan sekitar.
Hasil yang baik tidak bisa diperoleh secara instan. Kombinasi dari peran pendidik, orangtua, pemerintah, maupun segala lapisan masyarakat diharapkan mampu menciptakan remaja yang berkarakter tangguh(www.sinarharapan.co.id)

Remaja putri lebih rentan terhadap HIV

Remaja putri mempunyai kemungkinan lebih besar tertular HIV/AIDS dibanding remaja putra karena beberapa faktor. Beberapa faktor yang menjadikan remaja putri lebih rentan tertular HIV/AIDS merupakan faktor-faktor kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS. Faktor yang dimaksud adalah kondisi biologis perempuan dan faktor sosial. Perempuan mempunyai struktur alat reproduksi lebih kompleks dan sensitif sehingga pemantauan kesehatannya lebih rumit dibanding laki-laki. Sementara, untuk faktor sosialnya lebih banyak disebabkan oleh adanya sistem patriarki dalam masyarakat. Dalam sistem patriarki, posisi sosial perempuan baik di ruang domestik maupun publik lebih lemah dibanding laki-laki. Dalam ruang domestik termasuk dalam pola hubungan seksual, perempuan belum mampu sepenuhnya untuk menentukan sendiri aktivitas seksualnya. Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual lebih banyak ditentukan oleh laki-laki. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Padahal, penggunaan kondom dapat mencegah pebularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual.

Selain faktor tersebut, ada beberapa faktor yang memang membuat para remaja putri cenderung lebih mudah tertular HIV/AIDS. Pertama adalah kurangnya pengetahuan para remaja putri tentang penyakit HIV/AIDS akibat masih kurangnya sosialisasi informasi tentang hal ini. Kondisi ini menyebabkan remaja putri tidak mengetahui bagaimana penyakit HIV/AIDS dapat menular, media apa saja yang dapat menularkan HIV/AIDS, bagaimana mencegah penularan HIV/AIDS, dan lain sebagainya.

Kedua , seks dan maskulinitas pada kaum muda laki-laki secara umum menempatkan perempuan sebagai obyek seks. Pandangan ini selanjutnya membuat banyak kaum muda laki-laki cenderung memaksakan keinginannya untuk membuktikan kejantanannya di dalam seks tanpa memperhatikan resiko yang akan dialami oleh remaja putri. Sebaliknya, para remaja putri mempunyai kendali yang sangat minim dalam menggunakan hak-haknya untuk menolak hubungan seks yang tidak diinginkan atau tidak aman.

Ketiga , adalah faktor ekonomi. Semakin pesatnya arus globalisasi yang membawa nilai-nilai budaya popular telah memberikan pengaruh terhadap para remaja putri untuk berperilaku konsumtif. Budaya popular telah menanamkan nilai-nilai yang dilabelkan pada para remaja putri untuk berpenampilan cantik, menarik, dan mewah. Label ini kemudian menjadi ukuran dan target para remaja putri. Akibatnya, para remaja putri yang sudah terjebak dalam nilai-nilai tanpa diiringi dengan kemampuan ekonomi akan terperosok dalam dunia seks komersil. Padahal, dunia tersebut sangat rentan dengan penularan HIV/AIDS.

Keempat , gaya hidup penggunaan narkoba terutama jarum suntik. Pada tahun 2000an, kontribusi terbesar penularan HIV/AIDS adalah dari IDU atau penggunaan jarum suntik secara berganti-gantian. Pengguna terbesar IDU adalah kelompok kaum muda laki-laki. Namun, jumlah tersebut kemudian menyebabkan jumlah remaja putri yang tertular HIV/AIDS semakin meningkat. Peningkatan jumlah remaja putri dalam hal ini terjadi karena beberapa hal, yaitu:

  1. Remaja putri ikut serta dalam pemakaian narkoba dengan jarum suntik yang berganti-gantian.
  2. Remaja putri melakukan hubungan seksual bebas dengan pengguna jarum suntik yang sudah terinfeksi HIV/AIDS.
  3. Remaja putri menikah dengan mantan atau pengguna jarum suntik yang sudah terkena HIV/AIDS. Dewasa ini, banyak kasus semacam ini dialami oleh remaja putri yang menikah tanpa mengetahui riwayat hidup atau riwayat aktivitas seksual suaminya.(www.ippnu-pusat.org)

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s