Dunia itu fana

Posted on Updated on

Hari itu, Abdullah bin Mas’ud masuk ke rumah rasulullah. Sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil, di sisi Masjid Nabawi. Terlihat olehnya Rasulullah tidur begitu saja. Hanya beralaskan tikar kasar. Tidak ada kasur, tidak juga tumpukan bantal yang nyaman dan menenangkan.

Tak lama Rasulpun terbangun. Nampak dipipinya garis garis tikar yang membekas jelas. Seorang Rasul mulia, manusia pilihan, tidur hanya dengan tikar kasae, yang lantas mengguratkan garis garis dipipinya?

Melihat kondisi Rasulullah yang seperti itu, Abdullah bin Mas’ud sangat terharu. Hingga akhirnya, ia tak kuasa membendung air matanya. Abdullah bin Mas’ud menangis. Segera ia mendekati rasulullah , lalu menghapus debu yang menempel di pipinya yang mulia.

Melihat Abdullah bin Mas’ud menangis, Rasulullah bertanya, “Wahai Abdullah, apa yang kau tangisi?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Ya Rasulullah, aku teringat kemewahan para kaisar Persia dan Romawi. Mereka tidur dihamparan sutra yang lembut.“ itulah jawaban Abdullah. Itulah yang menyebabkan Abdullah bin Mas’ud menangis. Rasul mulia yang membawa agama kebenaran, membawa wahyu dari langit, tidur di ruangan yang sempit dengan alas apa adanya. Sementara itu, para pembesar pembesar Persia dan Romawi yang kafir dan memusuhi Islam, bisa tidur dengan segala kemewahan.

Mendengar jawaban Abdullah bin Mas’ud itu, Rasulullah pun berusaha menghibur Abdullah. Rasulullah mengatakan, “Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia ini. Sedangkan kita memiliki akhirat? Aku dan dunia ini ibarat seseorang yang berjalan dibawah terik matahari. Kemudian ia berteduh di bawah pohon. Ketika hari sudah teduh kembali, ia pun harus pergi.”

Begitullah, tangisan Abdullah adalah tangisan keimanan. Tangis yang mengalir dari air mata cinta kepada Rasul. Sesuatu yang merupakan bagian penting dari keseluruhan serat- serat cinta mukmin, setelah cintanya kepada Allah SWT. Itu adalah tangisan kepedihan, atas ‘ketidakmengertian’ dunia akan arti dan harga sebuah kemuliaan. Bahwa semestinya, para pengikut kekafiran, yang berlomba-lomba sekuat tenaga untuk menghalangi kebenaran, yang berusaha dengan segala daya untuk memadamkan cahaya iman, atau para penyebarkebusukan dan keculasan dalam segala bentuknya, semestinya mereka tak menikmati gemerlap dunia ini. Sebaliknya, Rasulmulia yang membimbing manusia meninggalkan kegelapan menuju cahaya islam yang terang, semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak.

Tetapi tangis Abdullah bukan ratapan akan kemewahan dunia yang seakan tak berpihak pada Rasulullah, atau padanya. Tidak. Ia tahu betul bagaimana memaknai imannya kepada Allah, juga kepada Rasul-Nya. Tetapi disinilah kita menyaksikan, sisi kemanusiaan Abdullah muncul dan mengalirkan gelombang rasa gundah yang sangat alami.
Pada sisi inilah sebuah pelajaran penting harus dicerna oleh setiap mukmin. Betapa akan banyak saat-saat dimana sisi kemanusiaan kita di hentak oleh fakta kehidupan yang terasa aneh, ganjildan menyesakkan.

Maka gemerlap dunia membutuhkan penyikapan yang arif, tidak hanya dengan menggunakan sisi- sisi kemanusiaan semata. Dibutuhkan mata hati, dan tidak sekadar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan tidak semata kalkulasi duniawi.

Seperti itulah yang kemudian dijelaskan oleh Rasullulah kepada Abdullah. Jawabam Rasul tidak hanya menyejukkan dan menghapus kegundahan Abdullah. Jawaban itu sekaligus menjadi pakem- paem penting tentang bagaimana ketimpangan dunia mendapat jawab yang sangat tuntas dan paripurna. Dibutuhkan mata hati yang mampu menembus dinding- dinding fisik duniawi, untuk bisa mendapatkan jawaban seperti ini..

Jawaban Rasullulah lebih jauh memberi kata kunci, agar sesorang mukmin tidak silau dengan dunia. Tidak terpukau oleh gemerlap kehidupan. Karena seorang mukmin mempunyai pengharapan lain. Yaitu Pengharapan akan kampung akhirat. Bila dunia menghampirinya, ia tidak terpedaya, tidak pula gampang tertipu. Sebaliknya, bila dunia tidak singgah pada kehidupannya, ia tak lantas putus ada, apalagi berulah yang bukan bukan.

Tentu tidak mudah menerima dengan tabah”ketimpangan” itu, lalu membaliknya menjadi penghibur hatidan penyubur bagi cahaya keimanan. Karenanya, kuncinya ada pada kemampuan memandang. Seperti jawaban Rasulullah itu, menegaskan betapa setiap mukmin harus memiliki kemampuan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lain, tidak saja dari sisi lahiriyah semata.

Memamndang sangat Jauh sama artinya dengan menghindarkan jiwa-jiwa kita dari sikap mudah silau. Menjauhkan jiwa dari mental cepat terpukau oleh apa yang ada di depan mata kita. Sebuah aksioma yang menarik pernah di sampaikan oleh Rasullah, dalam khutbahnya pada musim haji. Diantaranyan penggalan khutbahnya itu ia mengatakan, “ tidak ada kemuliaan bagi orang-orang Arab atas bukan Arab kecuali takwa.” Lalu, Rasululah menambahkan, “ Sesungguhnya seluruh manusia itu keturunan Adam, sedang Adm diciptakan dari tanah.”

Inilah yang disebut dengan memandang lebih jauh. Memandang melebihi batas yang nampak oleh mata. Memandang diri manusia, melebihi batasnya sebagai manusia yang menyilaukan. Lalu menyadari bahwa di balik itu semua ada unsur tanah. Bahwa hanya takwa yang membuat ‘mahluk-mahluk tanah’ itu menjadi berharga dan berbeda nilainya.
Kemampuan memandang jauh, dan memahami seperti itu akan memberikan kita sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Kekuatan yang akan menjadi pengendali utama segala tingkah laku kita. Sehingga kita bisa berjalan dalam koridor yang benar. Akhirnya, alangkah pentingnya kita memiliki cahara iman, yang mampu menembus batas- batas fakta duniawi. Agar waktu yang sesaat ini tidak sia-sia. Agar tak ada yang penyesalan kelak, pada hari ketika tak ada lagi gunanya harta dan kekayaan.(Tarbawi-Majalah RIZKI).

One thought on “Dunia itu fana

    ismail said:
    14 April 2011 pukul 9:30 am

    Kefanaan dunia memang kadang membuat manusia buta akan hakekat yang nyata ya mas?

    Suka

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s