Cigarretes Quality Control System

Posted on

I. PENDAHULUAN

Pengertian agroindustri sebagai komponen dari sistem agribisnis merupakan industri yang mengolah bahan baku dari hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi. Oleh karena itu agroindustri mempunyai peranan yang sangat penting karena pada umumnya mampu menghasilkan nilai tambah dari produk segar hasil pertanian. Kemajuan teknologi agroindustri dewasa ini bahkan mampu mendorong ke arah diversifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun pengguna lainnya atau meningkatkan pangsa pasar hasil olahan. Tujuan agroindustri pengolahan hasil pertanian dengan teknologi tertentu, antara lain adalah untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan manusia, baik selera maupun nilai gizinya, memperpanjang masa simpan hasil pertanian yang mudah rusak, memberi peluang bagi pergembangan industri, menciptakan diversifikasi produk, memperluas pangsa pasar. Kemajuan teknologi dalam agroindustri akan semakin efektif jika didukung dengan adanya sistem informasi. Sistem informasi ini memungkinkan agroindustri bekerja secara otomatis(mengurangi human error), banyak mengurangi biaya produksi dan lain sebagainya.
Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau, cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok, antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Dalam situasi krisis ekonomi, IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara.
Dalam tahun 2005 jumlah IHT (Rokok) sebanyak 3.217 perusahaan dan dalam tahun 2006 sudah mencapai 3.961 perusahaan atau meningkat sebesar 23,12 %. Dalam periode yang sama produksi rokok mencapai 220,3 milyar batang dan 218,7 milyar batang. Sebaran IHT secara geografis sebagian besar (75%) berada di Jawa Timur, Jawa Tengah (20%), dan sisanya berada di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, dan D.I Yogyakarta. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih), cerutu dan tembakau iris (shag). Khusus untuk industri rokok, peranan dari masing-masing golongan pabrik baik besar (Gol. I), menengah (Gol II), gol kecil (Gol IIIA dan Gol III B) tahun 2007 sebagai berikut :
PABRIK JUMLAH
PABRIK PRODUKSI CUKAI
GOL JUML. PRODUKSI (BATANG) (JUTA BATANG) % (Milyar Rp.) %
I > 2 Milyar 8 173,365.50 75.05 37,614.15 86.38
II > 500 Juta s.d 2 Milyar 15 23,585.01 10.21 2,978.81 6.84
III A > 6 Juta s.d 500 Juta 354 27,073.20 11.72 2,870.51 6.59
III B 0 s.d 6 Juta 4.416 6,976.20 3.02 78.13 0.18
Total 4.793 231,000.00 43,541.50
Keterangan :
1. Sumber Ditjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan

1.1 Permasalahan Yang Dihadapi Industri Hasil Tembakau
a. Bahan Baku
• Mutu tembakau yang belum mampu memenuhi standar pabrik;
• Ketidakseimbangan jenis pasokan dan jenis kebutuhan tembakau;
• Pelaksanan Kemitraan khususnya tembakau rakyat belum berjalan dengan baik;
• SNI Tembakau belum menjadi acuan dalam perdagangan tembakau;
• Berfluktuasinya harga cengkeh.

b. Produksi
• Kurangnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) khususnya industri kecil;
• SNI produk olahan tembakau yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi;
• Rendahnya tingkat produktifitas dan efisiensi;
• Kurangnya kemampuan industri pengolahan tembakau untuk melakukan diversifikasi produk dengan resiko kesehatan yang rendah.
c. Pemasaran
• Terbatasnya akses pasar luar negeri;
• Regulasi di daerah yang kurang disosialisasikan;
• Traktat International Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control-FCTC) cenderung membatasi konsumsi produk hasil tembakau;
• Beredarnya rokok ilegal;
• Kebijakan cukai yang kurang terencana;
Dari Permasalahan yang dihadapi perlu adanya Sistem informasi yang menangani tingginya tingkat permintaan dan produksi hasil tembakau. Agar mengefisiensikan segala kegiatan produksi.

II. PEMBAHASAN
2.1 Tentang Produk ( Cerutu Argopuros)
Koperasi Karyawan Kartanegara PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) didirikan pada tanggal 14 Desember 1968, memiliki beberapa bidang kegiatan usaha diantaranya Unit Usaha “CERUTU” sebagai produk unggulan dengan kualitas dan standart internasional.
Pabrik Cerutu ini berada di dalam KAWASAN BERIKAT PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di Jelbuk Jember Jawa Timur. Jember sejak jaman penjajahan Belanda sudah dikenal sebagai daerah sentra kualitas Tembakau Besuki dengan hamparan perkebunan luas di daerah kaki Gunung Argopuro.
Selama ini Sistem yang ada adalah hanya pengawasan manual dan Penjualan online tetapi penjualannya dilakukan oleh pihak pabrik selanjutnya disebarluaskan oleh pihak ketiga.
2.2 Tujuan Sistem
Untuk membangun sistem kontrol kualitas Cerutu “Argopuros” di PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) di Jelbuk Jember Jawa Timur, mulai dari tembakau siap panen hingga cerutu jadi, termasuk pemasaran dan atau pemasaran secara online
2.3 Manfaat Sistem
Memberi kemudahan untuk penikmat cerutu, pengelola keuangan dan pemilik pabrik dalam mengatur semua produksi pabrik.
2.4 Elemen Sistem
2.4.1. Operator Proses Pemetikan/ Sortasi
2.4.2. Operator Proses Pengeringan
2.4.3. Operator Proses Fermentasi
2.4.4. Operator Proses Pembungkusan
2.4.5. Operator Proses Gudang
2.4.6. Operator Proses Pengiriman(Bagian penjualan)

2.5 Proses Manual Tanpa Sistem
2.5.1. Pemetikan
Pemetikan daun dilakukan secara bertahap, kriteria tanaman siap dipanen yaitu setelah tanaman berumur 50 hari, 60 – 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga, warna daun “menongo bener” (hijau seperti bunga kenanga), sudut daun telah melebar atau merunduk daun mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Jenis dan banyaknya daun yang akan dipetik terdiri dari : 2 lembar daun tanah/pasir (DT), 6 lembar daun koseran pertama (DKP) 10 lembar daun koseran atas (DKA), 4 lembar daun madya pertama (DMP) 6 lembar daun madya tengah (DMT) dan 4 lembar daun madya atas (DMA). Pemetikan dilakukan pada pukul 06.00 – 08.00 pagi secara manual,pemetikan pada pagi hari akan menghasilkan krosok yang berwarna lebih cerah daripada sore hari.
2.5.2. Pengeringan
Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air curing. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m. Pada bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di dalamnya. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi, jendela ditutup dan dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam, kayu, atau briket batubara). Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut turun. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2.100 dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los pengering adalah sortasi, sunduk, pendolokan dan penyusunan daun, penaikan dan pelolosan.

2.5.4. Fermentasi
Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan polisakarida. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat 6-18 %, pembebasan tanah, penyerapan udara, pembebasan CO2, Pembebasan NH3 dan penurunan kadar air 14 – 20 %. Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma, warna krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus. Setelah fermentasi krosok kemudian disusun dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2,5 ton. Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C. Selanjutnya krosok dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan tinggi 22 cm.
2.5.5. Pembungkusan
Setelah proses fermentasi, dan di sortasi lagi mana daun tembakau yang layak dan tidak proses selanjutnya adalah masuk mesin pembuatan cerutu setelah itu pengepakan cerutu.
2.5.6. Gudang
Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0,75 tablet/m3 setiap 40 hari sekali.
2.5.7. Pengiriman
Setelah semua proses dilakukan proses ini adalah proses terakhir dalam produksi cerutu ini.

2.6 Diagram Alir Data
Dalam pembuatan desain sistem dibutuhkan diagram alir data, untuk memudahkan dalam membangun sistem. “Diagram aliran data dan pendekatan atas- bawah(top-down) membantu para analisis dan pemakai dalam memahami disain dan menghadapi kerumitan.”(Lucas, 1993:138)

Penjelasan Gambar:
1) Operator Proses Penyortir
melakukan proses menyotir tembakau pilihan yang siap panen data didapat dari sistem yang kemudian Operator ini menginputkan ke sistem berapa saja tembakau yang sudah dipanen, berapa yang gagal panen. Pada Operator ini akan memberi label, yaitu barcode. Supaya mudah untuk melanjutkan ke proses selanjutnya.

2) Operator Proses Pengeringan
melakukan proses Pengeringan. Operator iniakan mengambil data yang telah diinputkan oleh operator Proses Penyortir, dan operator ini akan mendapatkan jadwal dari sistem tentang pengeringan tembakau. Dengan cara memindai Barcode yang telah diberi oleh OP. Penyortir. Operator ini juga melakukan pencatatan tembakau kering, yaitu dengan memindai ulang barcode, kemudian menginputkan ke sistem.
3) Operator Proses Fermentasi
Setelah melalui Proses Pengeringan, dilakukan proses fermentasi. Pada proses ini Operator akan memindai, untuk menginputkan ke sistem tembakau yang di fermentasi. Operator akan melihat terlebih dahulu, mana jadwal tembakau yang siap fermentasi, maupun yang belum siap fermentasi.
4) Operator Proses Pembungkusan
Setelah Proses fermentasi selesai selanjutnya adalah proses pembungkusan, dengan memindai barcode yang ada di sistem, kemudian diproses oleh Mesin Pembungkusan, kemudian akan diinputkan data cerutu jadi
5) Operator Proses Gudang
Setelah seluruh data cerutu jadi diinputkan ke sistem proses selanjutnya adalah penyimpanan di gudang sebelum dikirim ke konsumen. Ketika terjadi transaksi maka Operator akan memindai barcode. Dan data tersebut akan masuk ke stokcerutu
6) Operator Proses Pengiriman(Bagian penjualan)
Pada Proses Pengiriman, Operator akan menginputkan, Jadwal pengiriman, operator ini akan mendapatkan stok cerutu dari gudang. Dan akan mendapatkan data pemesanan, operator ini akan memperkirakan mana transaksi yang dibatalkan mana yang tidak
7) Keuangan
Operator ini akan mengelola semua keuangan yang masuk dan semua keuangan yang keluar operator ini akan mendapatkan rekapan penjualan cerutu dari sistem
8) User
User adalah penikmat cerutu yang akan memesa cerutu via online, yang didapatkan dari sistem adalah stok cerutu, dan bukti pemesanan. User akan menginputkan data pemesanan. Dalam bukti pemesanan akan terdapat jadwal pengiriman.
9) Pemilik
Pemilik akan mendapatkan rekapan dari semua data yang keluar dan data yang masuk, (Rekapan penjualan cerutu)

2.7 Kendala
– Perlu dibangun pusat data
Dikarenakan sistem ini sistem yang terkoneksi dan terintegrasi, maka dibutuhkan pusat data. Untuk mengarsip semua data yang masuk dan semua data yang keluar
– Perlu adanya pelatihan tentang sistem yang memadai
Perlu biaya tambahan untuk kendala ini karena apabila sistem tidak ditangani oleh orang yang tepat maka akan terjadi kesalah- kesalahan
– Perlu adanya Pengadaan Hardware mampu bekerja 7hr/24 jam
Hardware ini penting karena sistem tak akan mapu berjalan dengan baik ketika hardware yang disediakan tidak memadai.

2.8 Kelebihan sistem.
-Paperless
Tidak membutuhkan kertas yang banyak untuk pembukuan
Lebih efisien
Karena sistem yang bekerja, meminimalisir Human Error
Hemat waktu
Banyak waktu yang tersimpan karena semua terkoneksi dengan baik
Hemat Cost
Tidak membutuhkan banyak pekerja

2.9 Kekurangan Sistem
Membutuhkan Pusat data
Inilah yang menjadi masalah dalam sistem, sistem hanya mampu membackup data ketika mempunyai pusat data, disini semua transaksi dicatat, mulai dari proses prodiuksi hingga proses transaksi
Membutuhkan sumber daya listrik
Ketika sumber daya ini tak tersedia maka Sistem tidak akan jalan. Karena sistem ini terkoneksi dan terintegrasi
Butuh tenaga yang mengerti sistem
Poin penting dan menjadi kelemahan sistem adalah disini. Karena sistem membutuhkan seseorang yang mengerti, untuk menjalankan sistem, dan melakukanperbaikan ketika terjadi kerusakan.
Membutuhkan Banyak sensor.

Sumber:
Lucas,JR. 1993. Analisis Desain, dam Implementasi Sistem Informasi. Jakarta:Erlangga.
Studi“Tobacco Economic in Indonesia” Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

One thought on “Cigarretes Quality Control System

    Cerutu argopuros jember indonesia | cerutu cigar said:
    30 Oktober 2014 pukul 8:11 am

    […] Cigarretes Quality Control System […]

    Suka

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s