Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

Posted on

Artikel Berikut adalah sharing tugas dari saya, konsepnya, dengan Artikel jadinya. Dibuat karena untuk memenuhi Tugas Bahasa Indonesia. Lumayan buat ngisi blog yang lama tak berpenghuni.😀 . Oke langsung aja. Oh ya mau cerita ini diketik manual lho. mantep jaya pokoknya aku ma hamdan ngerjakan mulai jam 9 sampek jam 3 pagi.

Tema : Penanggulangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction)
Judul : Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana
Kerangka
Lembar 1-3: Menyajikan Data dan fakta tentang kondisi alam di Indonesia(Masalah)
– Kondisi alam indonesia
– Pak SBY dapat penghargaan Disaster Risk Reduction
– Korban terbanyak yang biasanya terjadi
– Peran Masyarakat saat ini

Lembar 4: Perbandingan Indonesia dan luar negeri dalam menyikapi Resiko bencana alam
– Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di indonesia
– Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di Luar negeri
– Upaya Pengurangan resiko bencana beberapa daerah

Lembar 5: Penggunaan Teknologi (Solusi)
– Teknologi
– Seberapa efektif
– Negara lain dalam penggunaan teknologi dlm pengurangan resiko bencana
Lembar 6: Kesimpulan
– Merangkai kembali peristiwa2 diatas.
– Menegaskan kembali,pentingnya pengurangan resiko bencana
– Teknologi adalah jawaban semuanya

Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. Hal itu dikarenakan adanya cincin api atau ring of fire yang melingkupi Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Nasional Walhi Chalid Muhammad dalam Konferensi Rakyat Indonesia (KRI) di kompleks Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 1 Juli 2011.Kondisi geologi Indonesia memang berada di lingkungan cincin api. Cincin api adalah zona gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Ini membentang seperti daerah tapal kuda sekitar 40,000 km memanjang, yang menampung lebih dari 90% dari gempa bumi terbesar di dunia. Cincin api di Indonesia ditandai dengan adanya rangkaian pegunungan yang membentang dari Sumatera hingga kebagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Tidak hanya kondisi alam, Indonesia mempunyai kesempatan bencana alam lebih besar, dikarenakan kerusakan oleh manusia, seperti halnya kerusakan hutan, kerusakan ekosistem laut, tanah, udara yang menyebabkan banjir, tanah longsor, kekeringan, krisis air bersih dll. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, hingga akhir 2011, 31 perusahaan yang sedang diproses perizinannya di kantor Kementerian Kehutanan meminta izin pinjam pakai kawasan seluas 444 ribu hektare lebih. Khusus di Kabupaten Tanahbumbu, dari 37 perusahaan tambang batu bara yang mengapling lahan seluas 152.036 hektare, yang sudah mengantongi izin pinjam pakai kawasan dari Menteri Kehutanan (Menhut) hanya empat perusahaan saja, dengan total area seluas 15.654 hektare. Pemandangan serupa tampak di wilayah Kabupaten Tanahlaut yang sempat ditinjau langsung Menhut Zulkifli Hasan. Dari 74 pemegang izin kuasa pertambangan yang menggunakan lahan seluas 60.691 hektare, ternyata hanya empat perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari Menhut untuk melakukan aktivitas dengan luas area 12.778 hektare. Kerusakan lingkungan hidup tak hanya di daratan saja. Terumbu karang di perairan laut Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pun rusak parah, mencapai 70 persen dari luas 1278,18 hektare. “Hasil penelitian Universitas Bung Hatta menunjukkan kondisi terumbu karang perairan laut di Pesisir Selatan kian rusak. Kerusakan demi kerusakan ini menjadi peran besar dalam bencana alam.
Ini bertolak belakang ketika presiden SBY menerima penghargaan, dari PBB mengenai Global Champion of Disaster Risk Reduction. PBB menilai bahwa Indonesia yang merupakan negara berkembang melalui kepemimpinan bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah dapat berprestasi dalam menanggulangi tanggap darurat tsunami Aceh. Namun ini hanya penilaian dalam 1 kasus, masih banyak kasus bencana lain dan kita tidak tahu bagaimana penangananya. Ada faktor pernting yang mesti dinilai, yaitu ketanggapdaruratan warga, partisipasi warga dalam pengurangan resiko bencana karena warga lah yang mengerti keadaan lapangan, dan mengalami secara langsung bencana alam tersebut.
Bencana alam erat hubungannya dengan korban, karena alam tak bisa diramalkan kapan tak bersahabat. Seperti peristiwa gempa bumi yang berkuatan 8,9 skala Richter disusul dengan gelombang Tsunami di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara tahun 2004 yang menghasilkan korban meninggal sebanyak 220.000 jiwa, gempa tektonik di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006. Pada tahun 1988-2003 sebanyak 647 kejadian korban meninggal sebanyak 2.022. Pada tahun 2005, 281 kejadian dan menelam korban meninggal 2.462. ( Sumber: Depsos tahun 2008 dan walhi 2004) Banyak menelan korban, ketika tidak ada kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Anak-anak adalah jiwa yang paling rentan dalam bencana alam, terutama anak usia dini, merupakan kelompok paling rentan yang menjadi korban pertama dan paling menderita daripada orang dewasa. Mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri, sehingga peluang menjadi korban lebih besar. Harus ada upaya meminimalisasi korban anak- anak karena anak-anak adalah tunas bangsa.
Banyak upaya pengurangan resiko bencana untuk meminimalisasi banyaknya korban, semisal di jawa tengah dalam rangka memperingati hari remaja internasional 12 Agustus 2011, PMI beserta PMR mengadakan SB (Buka-Saur Bersama), tidak hanya itu setelah terawih diadakan pementasan wayang tenda, suatu aksi upaya pengurangan risiko (UPR) yang berbeda dari yang lainnya. Selain melakukan Upaya pengurangan risiko, acara ini juga melestarikan budaya indonesia. Tidak hanya di Jawa tengah, Jawa barat memiliki Smart SOP yang dicetuskan oleh Imam A. Sadisun, Dr. Eng. Lain jawa tengah dan barat lain pula cara di jawa timur, upaya pengurangan resiko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) jawa timur menggelar simulasi dalam upaya mengurangi risiko bencana pada tanggal 16/11/2011 di lapangan Rampal, Kota Malang.
Penanggulangan Bencana Alam yang dilakukan saat ini masih menyimpan beberapa masalah antara lain sebagai berikut:
Kelambatan dalam mengantisipasi tanggap darurat bencana;
Kurangnya koordinasi dalam perencanaan danpelaksanaan dalam pemulihan pasca bencana;
Kerangka kerja kelembagaan lebih fokus pada pelaksanaan tanggap darurat bencana dibanding pemulihan pasca bencana serta pendanaan yang lebih ditekankan pada tanggap darurat bencana.
Pemahaman atas pengurangan resiko bencana juga masih terlihat jelas akan kurangnya pemahaman dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan resiko becana.
Lemahnya kinerja kelembagaan dalam pelaksanaan pengurangan resiko bencana, kurangnya perencanaan dan pelaksanaan dalam pengurangan resiko bencana serta kurang terpadunya rencana penataan ruang dengan pengurangan resiko bencana.
Ketidakpahaman masyarakat dalam memberikan bantuan terhadap para korban, mengakibatkan masyarakat yang menjadi korban bencana alam sangat bergantung pada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah.
Belum terpenuhinya pelayanan standar minimum yang disyaratkan oleh piagam kemanusiaan terkait dengan pemberian bantuan terhadap korban bencana, sehingga sering ditemui korban bencana terkesan tidak dipenuhi akan haknya terhadap kehidupan yang bermartabat.
Berikut adalah beberapa resolusi, dan strategi nasional yang dijadikan landasan pengurangan risiko bencana:
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Upaya pengurangan risiko bencana merupakan isu lintas wilayah dan sektoral dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Pada 30 Juli 1999 Dewan Ekonomi dan Sosial PBB menerbitkan Resolusi Nomor 63 Tahun 1999 yang menetapkan bahwa dekade 1990 menjadi Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional(International Decade for Natural Disaster Reduction/IDNDR ). Dalam resolusi ini direkomendasikan agar PBB memfokuskan tindakan bagi pelaksanaan strategi internasional pengurangan risiko bencana. Dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana tersebut adalah:
(1). Mewujudkan ketahanan masyarakat terhadap dampak bencana alam, teknologi, dan lingkungan;
(2). Mengubah pola perlindungan terhadap bencana menjadi manajemen risiko bencana dengan memberlakukan integrasi strategi pengurangan risiko bencana ke dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan.
Strategi Yokohama (Yokohama Strategy)
Strategi Yokohama untuk Dunia yang Lebih Aman; Pedoman untuk Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Mitigasi terhadap Bencana Alam dan Rencana Aksi (The Yokohama Strategy for a Saber World; Guidelines for Natural Disaster Prevention, Preparedness and Mitigation and its Plan of Action) yang diadopsi pada 1994 memberikan suatu panduan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
Kesenjangan dan tantangan khusus yang diidentifikasi dari Strategi Yokohama terhadap tinjauan pelaksanaan yang masih cukup relevan untuk dijadikan acuan dalam pengembangan kerangka aksi 2005-2015, yaitu;
(1). Tata kelola, kelembagaan, kerangka kerja legal dan kebijakan;
(2). Identifikasi risiko, pengkajian, monitoring dan peringatan dini;
(3). Pengembangan pengetahuan dan pendidikan;
(4). Pengurangan faktor-faktor risiko mendasar;
(5). Kesiapsiagaan untuk respons dan pemulihan yang efektif.
Dan Masih banyak yang lain yang menjadi landasan internasional indonesia dalam rencana aksi nasional dalam pengurangan resiko bencana 2010-2015
“Teknologi adalah pengetahuan, peralatan, dan teknik yang digunakan untuk mengubah bentuk masukan (bahan baku, informasi, dan sebagainya) menjadi keluaran(produk dan jasa). Perubahan teknologi dapat membantu organisasi untuk menyediakan produk yang lebih baik atau menghasilkan produk secara lebih efisien”(Rachmawati, 2007:21). Dengan dasar tersebut membuktikan bahwa dengan teknologi, akan menghasilkan produk yang efisien, itu juga akan menghasilkan informasi yang efisien. Karena informasi dalam pengurangan resiko bencana sangat dibutuhkan. Seperti yang dilakukan di Jepang, karena mereka sadar akan rawan gempa, maka jepang mengantisipasinya dengan memperbanyak robot penyelamat. Berikut delapan robot penyelamat yang pernah digunakan dalam mitigasi bencana, dikutip detikINET dari Science Popular, Senin (14/3/2011), yakni RoboCue, Snakebot, Robotic Safety Crawler, Roller-Skating Rescuer, The Breath-Sensor, Kinect-Powered Rescue-Bot, Humanoid BEAR Medic-Bot dan Ultra-Cheap RoachBot.
Betapa pentingnya teknologi dalam jaman sekarang, terlebih untuk Pengurangan Resiko Bencana. Seperti yang tertulis di Rancangan Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana(RAN-PRB) 2010-2012 teknologi termasuk salah satu programnya. “Mengembangkan inovasi dan mengintensifkan kegiatan pengembangan dan pengenalan terhadap berbagai sistem peringatan dini yang berbasis teknologi tepat guna dalam rangka kesiapsiagaan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi bencana di tingkat nasional dan lokal;”(UNDP.2010:116). Informasi jika dikelola dengan teknologi dengan baik maka akan menghasilkan informasi yang bermanfaat. Teknologi yang bisa dimanfaatkan dalam mengelola informasi adalah internet. Selama ini jika internet hanya digunakan untuk social network, kota bisa gunakan internet untuk mencari tahu informasi tentang kebencanaalaman, tentang bagaimana menyelamatkan diri. Tidak hanya mencari kita juga bisa membagikan pengalaman tentang bagaimana menghadapi bencana alam
Teknologi merupakan solusi tepat dalam mengurangi resiko bencana, kita lihat jepang yang telah menerapkan teknologi dengan memperbanyak robot penyelamat. Dalam Resolusi PBB juga di sebutkan bahwa terdapat dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana yang salah satunya adalah teknologi. Teknologi bisa juga digunakan sebagai alat promosi bagaimana pentingnya pengurangan resiko bencana, mengingat Indonesia bertempat di Ring Of Fire, yang notabenenya adalah wilayah yang rawan bencana. Teknologi merupakan alat yang penting tetapi tidak satu-satunya masih banyak alat lain yang perlu diperhatikan, untuk mengurangi resiko bencana ini. Mengingat presiden SBY yang diberi penghargaan oleh PBB, sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction. Apresiasi yang lebih ini harus diimbangi dengan prestasi yang memadai, pemanfaatan teknologi tentang bahaya bencana lebih ditingkatkan, simulasi tentang kebencanaan lebih diperbanyak di daerah karena daerah yang mengerti kondisi lapangan. Promosi tentang kebencanaan sebaiknya jangan hanya simulasi, seperti yang dilakukan PMI Jawa tengah dengan menggelar wayang tenda. Dari sisi hiburan ini sangat diperlukan oleh masyarakat, masyarakat menyukai sesuatu yang menari dan berbau hiburan, karena kebencaan jika hanya dilakukan dengan seminar, atau pelatihan pelatihan yang membosankan, orang akan semakin malas mengikuti pelatihan kebencanaan demi mengurangi resiko bencana. Itulah solusi-solusi tepat untuk mengurangi resiko bencana agar kita bisa meminimalisasi korban.

Sumber:
Ebook http://ymp.or.id. Indonesia Rawan Bencana Alam, diunduh 12 Desember 2011 : 10.30.
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=293080 diunduh 18 desember :16.23.
http://www.detik.com diunduh, 18 Desember 2011 :16.30
UNDP, Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB) 2010-2012. 2010 (Tidak dipublikasikan)
Rachmawati, Ike. 2007. Manajemen Sumber Daya. Andi: Yogyakarta.

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s