Donald Trump pun Menjabat Tangannya dengan Terpingkal-pingkal

Posted on

”Baru sekali ini saya bertemu orang Islam yang wajahnya sejuk dan tersenyum terus,” kata Donald Trump.

Mungkin inilah islam yang sesungguhnya. saya masih percaya dan yakin bahwa islam itu indah.
islam itu ramah.

Rasullulah pun mengajarkan kita untuk tetap menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. entah itu islam, atau agama apapun.

Bersyukurlah hidup di Indonesia. yang memiliki semangat kebangsaan ‘Bhineka Tunggal Ika’. Kita tak melihat adanya pertumpahan darah karena hanya berbeda pendapat.

Dengan Islam yang ramah, kita bisa berdakwah. Kita bisa mengajak. bukan dengan islam marah marah. Apakah rasullulah marah ketika beliau dilempar telur busuk, di caci maki, di lempar kotoran kambing? Tidak. Justru Rasulullah mencari orang yang biasanya membully yang tiba tiba absen untuk tidak membully (dikarenakan sakit) . Dengan akhlak yang baik, rasul mengirimnya roti, dan akhirnya apa? orang tersebut memeluk islam.

lain cerita jika rasulullah marah- marah, mencak mencak, dan bersyukur ketika orang itu tidak membully. mungkin orang tersebut akan lebih benci dengan islam.

Islam itu indah, Islam itu Ramah. Islam itu Luwes.

Jadilah orang Indonesia yang islami. Bukan Orang Indonesia yang Arabi.

Catatan Dahlan Iskan

2 Januari 2015

Inilah dialog dua sahabat beda agama tentang perkenalan pertama mereka yang kurang menyenangkan. Ini terjadi di New York, antara tokoh Islam terpenting dan tokoh Yahudi tertinggi di kota itu. Tidak disangka, dua tokoh itu kemudian menjadi partner penting dalam sama-sama menciptakan kerukunan antarumat beragama.

Mereka terus tampil bersama di berbagai negara sebagai simbol perdamaian antara umat Islam dan Yahudi. Setiap mengingat lagi perkenalan pertama yang tidak mengenakkan itu, keduanya merasa geli. Saat itu New York memang lagi gawat. Tragedi 9/11 baru saja terjadi. Umat Islam New York terpojok oleh kasus terorisme itu.

Untuk meredakan ketegangan, wali kota New York mengumpulkan tokoh dari semua agama. Saat itulah tokoh Islam tersebut berusaha menyalami semua tokoh di situ. Tapi, tiba giliran menyalami tokoh Yahudi, yang dia terima sikap tidak bersahabat. Mau bersalaman, tapi tidak mau menatap wajah. Suatu saat, ketika keduanya sudah menjadi sahabat karib, soal itu mereka bicarakan. Inilah…

Lihat pos aslinya 748 kata lagi

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s