Ujian Nasional, Saya pernah Menjadi Korban.

Posted on

Ada apa dengan 6 tahun lalu?

iya, hari ini. Seminggu ini saya teringat 6 tahun lalu. Masa dimana saya berjuang untuk LULUS sekolah Menengah Atas. Selama 6 hari berjuang saya, dan nasib saya di tentukan oleh 6 hari itu.

Tahun tahun tersebut tidak ada ampun, karena di tahun tersebut tahun uji coba. Dimana ujian nasional di coba untuk tidak ada ujian ulang / remedial untuk siswa tidak lulus. Jika siswa tidak lulus, ya sudah tak ada perbaikan atau apapun, dan keputusan tidak bisa diganggu gugat.

1 bulan berselang dari UJIAN NASIONAL, ujian yang digunakan sebagai penentu kelulusan, dan pada waktu itu adalah hari PENGUMUMAN Ujian Nasional. Harap harap cemas menunggu kepastian. “Saya Lulus tidak sih?”. Saya yakin semua siswa Kelas XII menantikan hari pengumuman itu. Disekolah saya, SMAN 1 Banyuwangi, Pengumuman Ujian Nasional, diumumkan di sekolah, yang diawali dengan istigosah. Menariknya, Jika ada SISWA yang tak Lulus UN, maka pagi sekali, orang tuanya dikirimi Surat pemberitahuan, dan orang tuanya dipanggil diberitahu, bahwa anaknya tidak LULUS UN. Malam sebelum Detik Detik Pengumuman saya selingi oleh Berdoa kepada Allah ( meskipun telat ya, yang semestinya dilakukan sebulan yang lalu) berharap agar tidak di kirimi SURAT pemberitahuan.

Pagi pagi sekali, aku dikagetkan oleh penjaga sekolah yang datang ke rumah mengantarkan surat. Mengatakan bahwa pengumuman diajukan jam 08.00. Padahal pengumuman UN dijadwalkan jam 09.00. Jam 08.00 digunakan untuk Istigosah.

Sudah feeling, dan dalam hati mengatakan “Aku Tidak Lulus”. Akhirnya aku dan ayah berangkat ke sekolah. saya menunggu di luar halaman ( di halaman parkir masjid lebih tepatnya). Kenyataan itu benar. Saya menjadi Korban keganasan Ujian Nasional. Saya tidak lulus hanya 1 mata pelajaran, Matematika, dengan nilai 3,75. Tetapi saya tak berkecil hati, usaha saya perkeras dan membuahkan hasil. Nilai Matematika saya pada ujian nasional 2010, 10 bulat.
WOW. Memang ya, hasil tidak akan menghianati Usaha.

Oke kembali lagi pada Ujian Nasional. Hari ini, Ujian nasional semakin baik, dan memperbaiki sistem. Sebelumnya saya pernah menulis UN dan Solusinya 1 dan UN dan Solusinya 2. Sekarang, UN tidak dijadikan penentu kelulusan. Ini kabar gembira bagi saya dan teman teman yang lain yang pernah menjadi KORBAN UN. Sekarang, hanya dijadikan acuan pemerataan. Bagus sekali. karena tak semua anak memiliki psikologi yang sama dalam menghadapi ketidaklulusan.
Berapa banyak siswa yang tidak lulus bunuh diri akibat Ujian Nasional? Berapa banyak siswa yang Stress teriak teriak seperti orang kesurupan menghadapi ketidakLulusan?

Kabar baiknya lagi, ada sebagian sekolah sudah menggunakan CBT (Computer Based Test). Sistem Ujian Nasioanl Online, Wah. ini kabar baik sekali. Dengan Ujian metode ini, pemerintah menghemat berapa miliar untuk mencetak dan mendistribusikan soal ujian? Dan dengan metode ini akan mengurangi dari kebocoran soal, dan keterlambatan distribuasi dari penerbit. Seperti tahun lalu, ada ujian Tunda Nasional, akibat keterlambatan distribusi soal.

Semoga sistem Ujian nasional semakin membaik. Teringat kata orang tua dulu, yang mengedepankan kejujuran. yang tak terlalu mementingkan nilai di akademik. Dulu, nilai akademik 5 itu biasa. Terpenting adalah bagaimana seorang itu jujur menghadapi ujian. Nilai ini sejalan dengan REVOLUSI MENTAL Pak JOKOWI

Selamat pak Anies baswedan, Saya menilai sistem ini lebih baik dari pada tahun tahun sebelumnya

Silahkan beri tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s