Pelajaran

Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

Posted on

Artikel Berikut adalah sharing tugas dari saya, konsepnya, dengan Artikel jadinya. Dibuat karena untuk memenuhi Tugas Bahasa Indonesia. Lumayan buat ngisi blog yang lama tak berpenghuni. 😀 . Oke langsung aja. Oh ya mau cerita ini diketik manual lho. mantep jaya pokoknya aku ma hamdan ngerjakan mulai jam 9 sampek jam 3 pagi.

Tema : Penanggulangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction)
Judul : Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana
Kerangka
Lembar 1-3: Menyajikan Data dan fakta tentang kondisi alam di Indonesia(Masalah)
– Kondisi alam indonesia
– Pak SBY dapat penghargaan Disaster Risk Reduction
– Korban terbanyak yang biasanya terjadi
– Peran Masyarakat saat ini

Lembar 4: Perbandingan Indonesia dan luar negeri dalam menyikapi Resiko bencana alam
– Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di indonesia
– Fakta tentang penanggulangan resiko bencana di Luar negeri
– Upaya Pengurangan resiko bencana beberapa daerah

Lembar 5: Penggunaan Teknologi (Solusi)
– Teknologi
– Seberapa efektif
– Negara lain dalam penggunaan teknologi dlm pengurangan resiko bencana
Lembar 6: Kesimpulan
– Merangkai kembali peristiwa2 diatas.
– Menegaskan kembali,pentingnya pengurangan resiko bencana
– Teknologi adalah jawaban semuanya

Penggunaan Teknologi demi upaya pengurangan resiko bencana

Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. Hal itu dikarenakan adanya cincin api atau ring of fire yang melingkupi Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Nasional Walhi Chalid Muhammad dalam Konferensi Rakyat Indonesia (KRI) di kompleks Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 1 Juli 2011.Kondisi geologi Indonesia memang berada di lingkungan cincin api. Cincin api adalah zona gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Ini membentang seperti daerah tapal kuda sekitar 40,000 km memanjang, yang menampung lebih dari 90% dari gempa bumi terbesar di dunia. Cincin api di Indonesia ditandai dengan adanya rangkaian pegunungan yang membentang dari Sumatera hingga kebagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Tidak hanya kondisi alam, Indonesia mempunyai kesempatan bencana alam lebih besar, dikarenakan kerusakan oleh manusia, seperti halnya kerusakan hutan, kerusakan ekosistem laut, tanah, udara yang menyebabkan banjir, tanah longsor, kekeringan, krisis air bersih dll. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, hingga akhir 2011, 31 perusahaan yang sedang diproses perizinannya di kantor Kementerian Kehutanan meminta izin pinjam pakai kawasan seluas 444 ribu hektare lebih. Khusus di Kabupaten Tanahbumbu, dari 37 perusahaan tambang batu bara yang mengapling lahan seluas 152.036 hektare, yang sudah mengantongi izin pinjam pakai kawasan dari Menteri Kehutanan (Menhut) hanya empat perusahaan saja, dengan total area seluas 15.654 hektare. Pemandangan serupa tampak di wilayah Kabupaten Tanahlaut yang sempat ditinjau langsung Menhut Zulkifli Hasan. Dari 74 pemegang izin kuasa pertambangan yang menggunakan lahan seluas 60.691 hektare, ternyata hanya empat perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari Menhut untuk melakukan aktivitas dengan luas area 12.778 hektare. Kerusakan lingkungan hidup tak hanya di daratan saja. Terumbu karang di perairan laut Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pun rusak parah, mencapai 70 persen dari luas 1278,18 hektare. “Hasil penelitian Universitas Bung Hatta menunjukkan kondisi terumbu karang perairan laut di Pesisir Selatan kian rusak. Kerusakan demi kerusakan ini menjadi peran besar dalam bencana alam.
Ini bertolak belakang ketika presiden SBY menerima penghargaan, dari PBB mengenai Global Champion of Disaster Risk Reduction. PBB menilai bahwa Indonesia yang merupakan negara berkembang melalui kepemimpinan bapak Susilo Bambang Yudhoyono telah dapat berprestasi dalam menanggulangi tanggap darurat tsunami Aceh. Namun ini hanya penilaian dalam 1 kasus, masih banyak kasus bencana lain dan kita tidak tahu bagaimana penangananya. Ada faktor pernting yang mesti dinilai, yaitu ketanggapdaruratan warga, partisipasi warga dalam pengurangan resiko bencana karena warga lah yang mengerti keadaan lapangan, dan mengalami secara langsung bencana alam tersebut.
Bencana alam erat hubungannya dengan korban, karena alam tak bisa diramalkan kapan tak bersahabat. Seperti peristiwa gempa bumi yang berkuatan 8,9 skala Richter disusul dengan gelombang Tsunami di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara tahun 2004 yang menghasilkan korban meninggal sebanyak 220.000 jiwa, gempa tektonik di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006. Pada tahun 1988-2003 sebanyak 647 kejadian korban meninggal sebanyak 2.022. Pada tahun 2005, 281 kejadian dan menelam korban meninggal 2.462. ( Sumber: Depsos tahun 2008 dan walhi 2004) Banyak menelan korban, ketika tidak ada kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Anak-anak adalah jiwa yang paling rentan dalam bencana alam, terutama anak usia dini, merupakan kelompok paling rentan yang menjadi korban pertama dan paling menderita daripada orang dewasa. Mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri, sehingga peluang menjadi korban lebih besar. Harus ada upaya meminimalisasi korban anak- anak karena anak-anak adalah tunas bangsa.
Banyak upaya pengurangan resiko bencana untuk meminimalisasi banyaknya korban, semisal di jawa tengah dalam rangka memperingati hari remaja internasional 12 Agustus 2011, PMI beserta PMR mengadakan SB (Buka-Saur Bersama), tidak hanya itu setelah terawih diadakan pementasan wayang tenda, suatu aksi upaya pengurangan risiko (UPR) yang berbeda dari yang lainnya. Selain melakukan Upaya pengurangan risiko, acara ini juga melestarikan budaya indonesia. Tidak hanya di Jawa tengah, Jawa barat memiliki Smart SOP yang dicetuskan oleh Imam A. Sadisun, Dr. Eng. Lain jawa tengah dan barat lain pula cara di jawa timur, upaya pengurangan resiko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) jawa timur menggelar simulasi dalam upaya mengurangi risiko bencana pada tanggal 16/11/2011 di lapangan Rampal, Kota Malang.
Penanggulangan Bencana Alam yang dilakukan saat ini masih menyimpan beberapa masalah antara lain sebagai berikut:
Kelambatan dalam mengantisipasi tanggap darurat bencana;
Kurangnya koordinasi dalam perencanaan danpelaksanaan dalam pemulihan pasca bencana;
Kerangka kerja kelembagaan lebih fokus pada pelaksanaan tanggap darurat bencana dibanding pemulihan pasca bencana serta pendanaan yang lebih ditekankan pada tanggap darurat bencana.
Pemahaman atas pengurangan resiko bencana juga masih terlihat jelas akan kurangnya pemahaman dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan resiko becana.
Lemahnya kinerja kelembagaan dalam pelaksanaan pengurangan resiko bencana, kurangnya perencanaan dan pelaksanaan dalam pengurangan resiko bencana serta kurang terpadunya rencana penataan ruang dengan pengurangan resiko bencana.
Ketidakpahaman masyarakat dalam memberikan bantuan terhadap para korban, mengakibatkan masyarakat yang menjadi korban bencana alam sangat bergantung pada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah.
Belum terpenuhinya pelayanan standar minimum yang disyaratkan oleh piagam kemanusiaan terkait dengan pemberian bantuan terhadap korban bencana, sehingga sering ditemui korban bencana terkesan tidak dipenuhi akan haknya terhadap kehidupan yang bermartabat.
Berikut adalah beberapa resolusi, dan strategi nasional yang dijadikan landasan pengurangan risiko bencana:
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Upaya pengurangan risiko bencana merupakan isu lintas wilayah dan sektoral dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Pada 30 Juli 1999 Dewan Ekonomi dan Sosial PBB menerbitkan Resolusi Nomor 63 Tahun 1999 yang menetapkan bahwa dekade 1990 menjadi Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional(International Decade for Natural Disaster Reduction/IDNDR ). Dalam resolusi ini direkomendasikan agar PBB memfokuskan tindakan bagi pelaksanaan strategi internasional pengurangan risiko bencana. Dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana tersebut adalah:
(1). Mewujudkan ketahanan masyarakat terhadap dampak bencana alam, teknologi, dan lingkungan;
(2). Mengubah pola perlindungan terhadap bencana menjadi manajemen risiko bencana dengan memberlakukan integrasi strategi pengurangan risiko bencana ke dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan.
Strategi Yokohama (Yokohama Strategy)
Strategi Yokohama untuk Dunia yang Lebih Aman; Pedoman untuk Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Mitigasi terhadap Bencana Alam dan Rencana Aksi (The Yokohama Strategy for a Saber World; Guidelines for Natural Disaster Prevention, Preparedness and Mitigation and its Plan of Action) yang diadopsi pada 1994 memberikan suatu panduan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
Kesenjangan dan tantangan khusus yang diidentifikasi dari Strategi Yokohama terhadap tinjauan pelaksanaan yang masih cukup relevan untuk dijadikan acuan dalam pengembangan kerangka aksi 2005-2015, yaitu;
(1). Tata kelola, kelembagaan, kerangka kerja legal dan kebijakan;
(2). Identifikasi risiko, pengkajian, monitoring dan peringatan dini;
(3). Pengembangan pengetahuan dan pendidikan;
(4). Pengurangan faktor-faktor risiko mendasar;
(5). Kesiapsiagaan untuk respons dan pemulihan yang efektif.
Dan Masih banyak yang lain yang menjadi landasan internasional indonesia dalam rencana aksi nasional dalam pengurangan resiko bencana 2010-2015
“Teknologi adalah pengetahuan, peralatan, dan teknik yang digunakan untuk mengubah bentuk masukan (bahan baku, informasi, dan sebagainya) menjadi keluaran(produk dan jasa). Perubahan teknologi dapat membantu organisasi untuk menyediakan produk yang lebih baik atau menghasilkan produk secara lebih efisien”(Rachmawati, 2007:21). Dengan dasar tersebut membuktikan bahwa dengan teknologi, akan menghasilkan produk yang efisien, itu juga akan menghasilkan informasi yang efisien. Karena informasi dalam pengurangan resiko bencana sangat dibutuhkan. Seperti yang dilakukan di Jepang, karena mereka sadar akan rawan gempa, maka jepang mengantisipasinya dengan memperbanyak robot penyelamat. Berikut delapan robot penyelamat yang pernah digunakan dalam mitigasi bencana, dikutip detikINET dari Science Popular, Senin (14/3/2011), yakni RoboCue, Snakebot, Robotic Safety Crawler, Roller-Skating Rescuer, The Breath-Sensor, Kinect-Powered Rescue-Bot, Humanoid BEAR Medic-Bot dan Ultra-Cheap RoachBot.
Betapa pentingnya teknologi dalam jaman sekarang, terlebih untuk Pengurangan Resiko Bencana. Seperti yang tertulis di Rancangan Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana(RAN-PRB) 2010-2012 teknologi termasuk salah satu programnya. “Mengembangkan inovasi dan mengintensifkan kegiatan pengembangan dan pengenalan terhadap berbagai sistem peringatan dini yang berbasis teknologi tepat guna dalam rangka kesiapsiagaan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi bencana di tingkat nasional dan lokal;”(UNDP.2010:116). Informasi jika dikelola dengan teknologi dengan baik maka akan menghasilkan informasi yang bermanfaat. Teknologi yang bisa dimanfaatkan dalam mengelola informasi adalah internet. Selama ini jika internet hanya digunakan untuk social network, kota bisa gunakan internet untuk mencari tahu informasi tentang kebencanaalaman, tentang bagaimana menyelamatkan diri. Tidak hanya mencari kita juga bisa membagikan pengalaman tentang bagaimana menghadapi bencana alam
Teknologi merupakan solusi tepat dalam mengurangi resiko bencana, kita lihat jepang yang telah menerapkan teknologi dengan memperbanyak robot penyelamat. Dalam Resolusi PBB juga di sebutkan bahwa terdapat dua sasaran utama strategi internasional pengurangan risiko bencana yang salah satunya adalah teknologi. Teknologi bisa juga digunakan sebagai alat promosi bagaimana pentingnya pengurangan resiko bencana, mengingat Indonesia bertempat di Ring Of Fire, yang notabenenya adalah wilayah yang rawan bencana. Teknologi merupakan alat yang penting tetapi tidak satu-satunya masih banyak alat lain yang perlu diperhatikan, untuk mengurangi resiko bencana ini. Mengingat presiden SBY yang diberi penghargaan oleh PBB, sebagai Global Champion of Disaster Risk Reduction. Apresiasi yang lebih ini harus diimbangi dengan prestasi yang memadai, pemanfaatan teknologi tentang bahaya bencana lebih ditingkatkan, simulasi tentang kebencanaan lebih diperbanyak di daerah karena daerah yang mengerti kondisi lapangan. Promosi tentang kebencanaan sebaiknya jangan hanya simulasi, seperti yang dilakukan PMI Jawa tengah dengan menggelar wayang tenda. Dari sisi hiburan ini sangat diperlukan oleh masyarakat, masyarakat menyukai sesuatu yang menari dan berbau hiburan, karena kebencaan jika hanya dilakukan dengan seminar, atau pelatihan pelatihan yang membosankan, orang akan semakin malas mengikuti pelatihan kebencanaan demi mengurangi resiko bencana. Itulah solusi-solusi tepat untuk mengurangi resiko bencana agar kita bisa meminimalisasi korban.

Sumber:
Ebook http://ymp.or.id. Indonesia Rawan Bencana Alam, diunduh 12 Desember 2011 : 10.30.
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=293080 diunduh 18 desember :16.23.
http://www.detik.com diunduh, 18 Desember 2011 :16.30
UNDP, Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB) 2010-2012. 2010 (Tidak dipublikasikan)
Rachmawati, Ike. 2007. Manajemen Sumber Daya. Andi: Yogyakarta.

Iklan

Prediksi uan 2010

Posted on Updated on

  • Prediksi UAN 2010 bahasa indonesia
    Silahkan download DISINI
  • Prediksi UAN 2010 KIMIA
    Silahkan download DISINI
  • Prediksi UAN 2010 Matematika
    Silahkan download DISINI
  • Prediksi UAN 2010 Bahasa Inggris
    Silahkan download DISINI
  • Predikksi UAN 2010 FISIKA
    Silahkan download DISINI
  • Prediksi UAN 2010 Biologi
    Silahkan download DISINI

Tugas BK

Posted on Updated on

Disini aku mencoba membantu temen2 untuk menemukan nama dan alamat universitas, sekolah tinggi, dan Akademi Biar gag kesulitan kan?

  • Akademi

Akademi Kelautan Banyuwangi
Jl. Transmigrasi No. 5, Ketapang, Banyuwangi 68532

Akademi Akuntansi PGRI Jember
Jl. Jawa No. 10, Jember 68121

Akademi Analis Kesehatan YPM
Jl. Raya Ngelom No. 86, Sepanjang, Sidoarjo 61257

Akademi Administrasi Keuangan Indonesia
Jl. Pangkalan Jati No. 4, Jatiwaringin, Jakarta Timur

Akademi Akuntansi Jayabaya
Jl. Pulomas Selatan, Kav. 23, Jakarta Timur 13210

  • Universitas

Universitas Al-Azhar Medan
Jl. Pintu Air IV, Telp. 521911, Medan

Universitas Amir Hamzah
Jl. Pancing Psr V Barat (Medan Estate), Telp. 614160, Medan 20221

Universtas Brawijaya
Jl. Veteran Malang, Jawa Timur,� Indonesia
85 KM dari kota Surabaya

Universitas Trunojyo
Jl. Raya Telang PO. Box 2 Kamal – Bangkalan

Universitas Negeri Malang
Jl. Surabaya 6 Malang 65145 Indonesia

  • Sekolah Tinggi

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Anindyaguna
Jl. Dr. Soetomo No. 45, Semarang 50231

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdatul Ulama
Jl. Raya Batealit, Tahunan, Jepara 59425

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hakli
Jl. Dr. Ismangil No. 27, Semarang 50148

Sekolah Tinggi Teknik Surabaya
Jl. Ngagel Jaya Tengah No. 73-77, Surabaya 60284

STMIK Surabaya
Jl. Raya Kedung Baruk No. 98, Surabaya 60298

HIV/AIDS. . .serem???

Posted on Updated on

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).(id.wikipedia.org)

Para ahli menyebutkan ada beberapa hal yang membuat kaum remaja mudah jatuh ke dalam perilaku seks bebas, antara lain pengaruh lingkungan pergaulan, pornografi, sulit membedakan antara cinta dan nafsu, naif karena berpikir berhubungan seks satu kali tidak apa-apa, dan lain sebagainya. Terhadap kondisi-kondisi demikian, sulit untuk menemukan suatu cara yang ampuh untuk mengatasinya selain adanya usaha-usaha pembentukan karakter dalam diri remaja.
Pendidikan seks yang berdasarkan pembentukan karakter bukanlah mengajarkan bagaimana melakukan seks yang aman, termasuk penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti kondom, melainkan suatu program yang mendidik bagaimana seorang remaja memiliki karakter yang kuat seperti sikap bertanggung jawab, berani mempertahankan prinsip, rasa hormat terhadap diri orang lain, dan kemampuan pengendalian diri untuk tidak berperilaku negatif, dan sebagainya. Karakter-karakter yang demikian membuat seorang remaja mampu untuk mempertahankan prinsip “tidak melakukan hubungan seks bebas” (abstinence).
Menghadapi perkembangan yang mengkhawatirkan ini, dunia pendidikan, pemerintah, dan organisasi kesehatan sibuk menebarkan pesan “pengurangan risiko,” terutama tertuju pada kaum remaja.
Penanggulangan difokuskan pada upaya mengurangi kemungkinan terjadinya kehamilan atau tertular penyakit menular seksual, lazimnya dengan menyebarluaskan penggunaan alat kontrasepsi atau metode/sarana pencegah penyakit, terutama kondom. Ironisnya, masalah perilaku seks bebas itu sendiri kurang mendapat perhatian serius.
“Say No to Free Sex” adalah keputusan terbaik dan paling sehat untuk para remaja. Kenyataannya, pesan serupa secara universal diajarkan dalam menanggulangi perilaku beresiko tinggi lainnya, termasuk merokok, mabuk-mabukan, narkoba dan kekerasan (Misal: “Say No to Drugs”). Pantang melakukan semua tindakan berisiko tinggi– termasuk aktivitas seksual–menjamin masa depan yang cerah dan memberi kesempatan pada anak muda untuk membina persahabatan, meraih impian dan cita-cita, serta menikmati kesehatan yang optimum.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu mengabaikan atau menganggap remeh ide agar seseorang menahan diri dari aktivitas seks di luar nikah. Menurut mereka, hal ini tidaklah realistis. Mereka beranggapan bahwa aktivitas seksual di kalangan remaja mau tak mau pasti terjadi, jadi pendekatan yang paling masuk akal adalah menolong mereka meminimalkan konsekuensi dari tindakannya itu.
Lebih jauh, asumsi “mau tak mau pasti terjadi” tidak pernah menjadi semboyan panutan program-program yang dengan gigih berupaya menanggulangi kecanduan rokok, alkohol, dan narkoba di kalangan kaum muda.
Berdasarkan suatu survei yang pernah dilakukan tentang ketepatan dalam menggunakan kondom, hasilnya menunjukkan tingkatan yang rendah, terutama di kalangan remaja. Rupanya asumsi bahwa remaja lebih sanggup menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks bebas “jauh lebih realistis” dibanding asumsi bahwa remaja akan menggunakan kondom dengan benar setiap kali mereka berhubungan seks.
Lebih dari itu, meski kondom secara konsisten digunakan, khasiatnya kurang terjamin, dan dalam banyak kasus, kondom hanya memberikan perlindungan minimal terhadap penyakit menular seksual yang berbahaya.
Banyak pakar kedokteran yang bahkan meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,0003 mm, sedangkan ukuran virus HIV/AIDS jauh lebih kecil, 0,000001 mm.
Jika pesan yang mempromosikan pantang seks bebas (abstinence) diharapkan bisa terlaksana dengan efektif, tidaklah cukup bila kita hanya mengkampanyekan slogan “Say No to Free Sex” atau sesekali menggelar acara penyuluhan dan ceramah kesehatan tentang penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Pesan tersebut mesti dicanangkan secara komprehensif, multidimensi, dan berulang-ulang, lewat berbagai cara, selama beberapa tahun, baik di sekolah, di rumah, dan lingkungan sekitar.
Hasil yang baik tidak bisa diperoleh secara instan. Kombinasi dari peran pendidik, orangtua, pemerintah, maupun segala lapisan masyarakat diharapkan mampu menciptakan remaja yang berkarakter tangguh(www.sinarharapan.co.id)

Remaja putri lebih rentan terhadap HIV

Remaja putri mempunyai kemungkinan lebih besar tertular HIV/AIDS dibanding remaja putra karena beberapa faktor. Beberapa faktor yang menjadikan remaja putri lebih rentan tertular HIV/AIDS merupakan faktor-faktor kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS. Faktor yang dimaksud adalah kondisi biologis perempuan dan faktor sosial. Perempuan mempunyai struktur alat reproduksi lebih kompleks dan sensitif sehingga pemantauan kesehatannya lebih rumit dibanding laki-laki. Sementara, untuk faktor sosialnya lebih banyak disebabkan oleh adanya sistem patriarki dalam masyarakat. Dalam sistem patriarki, posisi sosial perempuan baik di ruang domestik maupun publik lebih lemah dibanding laki-laki. Dalam ruang domestik termasuk dalam pola hubungan seksual, perempuan belum mampu sepenuhnya untuk menentukan sendiri aktivitas seksualnya. Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual lebih banyak ditentukan oleh laki-laki. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Padahal, penggunaan kondom dapat mencegah pebularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual.

Selain faktor tersebut, ada beberapa faktor yang memang membuat para remaja putri cenderung lebih mudah tertular HIV/AIDS. Pertama adalah kurangnya pengetahuan para remaja putri tentang penyakit HIV/AIDS akibat masih kurangnya sosialisasi informasi tentang hal ini. Kondisi ini menyebabkan remaja putri tidak mengetahui bagaimana penyakit HIV/AIDS dapat menular, media apa saja yang dapat menularkan HIV/AIDS, bagaimana mencegah penularan HIV/AIDS, dan lain sebagainya.

Kedua , seks dan maskulinitas pada kaum muda laki-laki secara umum menempatkan perempuan sebagai obyek seks. Pandangan ini selanjutnya membuat banyak kaum muda laki-laki cenderung memaksakan keinginannya untuk membuktikan kejantanannya di dalam seks tanpa memperhatikan resiko yang akan dialami oleh remaja putri. Sebaliknya, para remaja putri mempunyai kendali yang sangat minim dalam menggunakan hak-haknya untuk menolak hubungan seks yang tidak diinginkan atau tidak aman.

Ketiga , adalah faktor ekonomi. Semakin pesatnya arus globalisasi yang membawa nilai-nilai budaya popular telah memberikan pengaruh terhadap para remaja putri untuk berperilaku konsumtif. Budaya popular telah menanamkan nilai-nilai yang dilabelkan pada para remaja putri untuk berpenampilan cantik, menarik, dan mewah. Label ini kemudian menjadi ukuran dan target para remaja putri. Akibatnya, para remaja putri yang sudah terjebak dalam nilai-nilai tanpa diiringi dengan kemampuan ekonomi akan terperosok dalam dunia seks komersil. Padahal, dunia tersebut sangat rentan dengan penularan HIV/AIDS.

Keempat , gaya hidup penggunaan narkoba terutama jarum suntik. Pada tahun 2000an, kontribusi terbesar penularan HIV/AIDS adalah dari IDU atau penggunaan jarum suntik secara berganti-gantian. Pengguna terbesar IDU adalah kelompok kaum muda laki-laki. Namun, jumlah tersebut kemudian menyebabkan jumlah remaja putri yang tertular HIV/AIDS semakin meningkat. Peningkatan jumlah remaja putri dalam hal ini terjadi karena beberapa hal, yaitu:

  1. Remaja putri ikut serta dalam pemakaian narkoba dengan jarum suntik yang berganti-gantian.
  2. Remaja putri melakukan hubungan seksual bebas dengan pengguna jarum suntik yang sudah terinfeksi HIV/AIDS.
  3. Remaja putri menikah dengan mantan atau pengguna jarum suntik yang sudah terkena HIV/AIDS. Dewasa ini, banyak kasus semacam ini dialami oleh remaja putri yang menikah tanpa mengetahui riwayat hidup atau riwayat aktivitas seksual suaminya.(www.ippnu-pusat.org)

Resensi Buku

Posted on

Rekan-rekan, pada artikel ini akan menjelaskan tentang resensi buku beserta contohnya , artikel ini di ringkas sehingga mudah dibaca dan dicerna serta tidak sulit untuk diterapkan.

Resensi adalah bisa dikatakan sebagai mak comblang, itu agar memudahkan kita memahami tentang Resensi, kenapa saya bilang resensi segabai mak comblang dalam kehidupan sehari hari Karena dengan resensi kita dikenalkan suatu karya. Seperti halnya mak comblang kita dikenalkan tentang baik buruknya seseorang, kelebihan,kekurangan.

Dalam menulis Resensi perhatikan hal ini sebagai menulis resensi

1.Kalimat/Paragraf  pengantar/pendahuluan(Mengantarkan pembaca supaya pembaca focus pada judul)                                                                                                            

2. Gambaran Umum buku (dilihat dari daftar pustaka agar kita udah dalam meresensi)                

3. Topik/permasalahan dan pemecahan (Menampilkan sinopsis kalau pada buku sastra,pada buku non sastra menjelaskan tentang pembahasan pada buku yang diresensi)                       

4. Bahasa (Dilihat dari pengrang menggunakan kalimat yang bagaimana contoh pengarang menggunakan kalimat yang pendek seperti bahasa pers, dilihat dari Diksi, dilihat dari tata bahasa yang dipakai)                                                                                                    

5. Gaya penyampaian pengarang.(contoh gaya bercerita,gaya mengajak bicara dll.)          

6. Kelebihan dan Kekurangan                                                                                    

7. Perbandingan dengan buku lain yang sejenis                                                            

8. Nilai Buku (Kegunaan buku untuk apa?,bagi siapa?)

Contoh Resensi Buku

Pentingnya Berbakti pada Orang tua terhadap kebaikan dan kebahagiaan didunia dan diakhirat

Judul: Berbakti kepada Orang Tua

kunci Kesuksesan dan Kebahagiaan Anak

Penulis: Muhammad Al-Fahham

Tahun Terbit : 2006

Penerbit : Irsyad Baitus Salam(IBS)

                   Berbakti pada Orang tua sangat dibutuhkan untuk mencapai keluarga yang harmonis hal ini Rasullulah SAW bersabda :”Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian. Peliharalah kesucian diri kalian, niscaya istri-istri kalian akan memelihara kesucian diri mereka”. (HR Thabarani dan Hakim)

                   Buku bersampul hijau ini berisi 296 halaman dan terdapat 13 bab,10 bab pada pembahasan pertama, 3 bab lainnya pada pembahasan kedua. Pada pembahasan pertama yaitu bakti kepada orangtua,Bab I tertulis pada halaman 75, BAB II terdapat pada halaman 91, BAB III (Bakti Nabi Muhammad) tertuang dalam halaman 115, Bab IV berisi “kewajiban berbakti pada orang tua itu mutlak” tertulis pada halaman 133,Bab V pada halaman 151 membahas keutamaan berbakti kepada orang tua pada bab ini tertulis sebanyak 7 halaman, Bab VI “membahas tentang Mendahulukan Hak Orang tua atas hak-hak lainnya” bab ini tertulis  22 halaman, Bab VII membahas tentang “Fenomena berbakti kepada orang tua dalam pembahasan tentang Etika”, Bab VIII membahas tentang “metode dan petunjuk Nabi untuk berbakti kepada orang tua setelah Wafat”, Bab IX Membahas tentang “Mengapa Ibu lebih didahulukan”, dan pada Bab X menjelaskan tentang “Bukti-bukti yang berharga”. Pada pembahasan yang kedua yaitu membahas tentang durhaka Kepada Orang tua, Bab I menjelaskan tentang “Akibat Durhaka kepada Orang TUa ”, tertulis pada halaman ke 255,dan Bab ini ditulis 14 halaman, Bab II menjelaskan tentang “Bentuk bentuk perbuatan durhaka kepada Orang tua” ditulis pada halaman 269, pada Bab terakhir menerangkan tentang “Apakah orang yang durhaka dapat bertobat?” BAB ini ditulis sebanyak 11 halaman, pada akhi buku ini terdapat Epilog ditulis pada halaman 293.

                   Buku yang membahas tentang berbakti pada orang tua, dan durhaka kepada orang tua ini memberitahu kita tentang bagaimana kita memelihara eksistensi(keutuhan ) masyarakat dengan memelihara keluarga, kisah tentang Berbaktinya Nabi Ismail as, Yahya as, Isa as,serta Bakti Nabi Muhammad SAW.

                   Penulis menggunakan kalimat yang berpanjang lebar dalam menerangkan permasalahan tetappi gampang dimengerti, banyak terdapat dalil-dalil yang memperkuat buku ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang santun.

                   Gaya penulis menuangkan idenya adalah dengan gaya bercerita, itu dilihat dari tulisan penulis yang menjelaskan sesuatu dengan contoh hal ini mempermudah pembaca memahami suatu pembahasan.

                   Dengan melakukan pendekatan-pandekatan  yang terdapat buku ini menjadi kelebihan tersendiri, namun terdapat kekurangan pada buku ini yaitu pada kertas. Kertasnya menggunakan buku pada umumnya yakni menggunakan kertas yang kualitasnya lebih baik dari kertas buram sedikit.

                     Dibandingkan dengan buku lainnya buku ini lebi9h mudah dimengerti dan bagi anda pembaca buku ini sangat mudah untuk mengaplikasinya.

                   Buku ini berguna bagi siapa saja terutama bagi para pemuda yang mencari jati diri, buku ini juga cocok buat para suami yang mencari istri shalihah karena terdapat pembahasan tentang hal tersebut.

                   Semua itu tergantung pada pembaca yang ingin menambah wawasan tentang agama, karena saya hanya mengenallkan  bagaimana buku tersebut, dan saya menjelaskan apa adanya.

                                                                                                          Rahmadinata

Nah itulah contoh meresensi yang saya ambil adalah buku Non fiksi dan non pelajaran,tunggu artikel saya yang lain,tentang pelajaran umum atau tentang agama.

Semoga bermanfaat buat anda…copy file tersebut jika anda butuh jangan lupa leave coment ya….agar dalam penulisan artikel lebih baik